Kalau Tuhan Disalahpahami, Tembok Jadi TerasaWajar
Kalau Tuhan Disalahpahami, Tembok Jadi Terasa Wajar #salahpaham #tembok #identitas #Tuhan #beda
Dalam pengalaman saya, seringkali manusia membangun batas-batas mental yang membatasi hubungan dengan orang lain hanya karena cara kita memahami Tuhan secara salah. Kesalahpahaman ini membuat kita merasa benar sendiri dan memandang orang lain dengan rasa curiga atau bahkan membenci. Saya pernah merasakan bagaimana tembok itu terbentuk ketika kita lebih mengutamakan identitas kelompok daripada nilai kasih yang Tuhan ajarkan. Misalnya, ketika berbeda agama, ras, atau status sosial, saya sadar bahwa itu hanya tembok yang kita buat sendiri, bukan sesuatu yang Tuhan inginkan. Saya belajar dari ayat Efesus 2:14 yang mengatakan Kristus meruntuhkan tembok pemisah, memberi pesan bahwa kasih dan damai sejahtera harus menjadi jembatan antar kita. Melihat dari perspektif ini, saya mulai berusaha melatih hati untuk menerima perbedaan tanpa prasangka. Saya mengingat betapa besar hati Allah yang tidak terbatas dan tidak hanya untuk satu kelompok saja, melainkan semua manusia. Saya juga belajar dari Yohanes 14:9, bahwa melihat Yesus berarti melihat hati Allah yang mencintai tanpa syarat. Kadang kita merasa nyaman dengan tembok yang ada karena memberi rasa aman, namun kenyataannya tembok itu membuat kita jauh dari cinta kasih yang sebenarnya. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya terus bertanya dan membuka pikiran agar tidak salah paham dengan Tuhan dan akhirnya bisa membangun hidup yang lebih harmonis dan inklusif. Semoga pengalaman ini bisa menginspirasi pembaca untuk meninjau kembali pandangan tentang Tuhan dan membongkar tembok-tembok yang selama ini membatasi kita untuk benar-benar menghargai dan mencintai sesama.











