Aqeela: Fattah atau Harry
Today abis ngobrol sama psikolog yang pernah aku wawancara dulu. Iseng2 tadi bahas soal Aqeela. Begini konklusinya sementara. Sekalian kita belajar soal BPD 🤗🫡 #asmaragenz #fyp
Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan seseorang yang memiliki Borderline Personality Disorder (BPD), saya mulai memahami betapa kompleksnya perjuangan emosional yang mereka alami. Dalam kasus Aqeela, terlihat jelas bagaimana ikatan emosional yang sangat kuat dengan Fattah masih menggantung dan memengaruhi perasaannya meskipun ia sudah berusaha menjalani hubungan baru dengan Harry. Pengalaman saya mengajarkan bahwa bagi penyintas BPD, proses "move on" tidak selalu linier. Meski secara fisik mereka mungkin sudah meninggalkan masa lalu, namun luka emosi dan kebutuhan akan validasi dapat membuat mereka terus terseret kembali. Hal ini sangat jelas dalam situasi Aqeela saat mendengar kalimat "I love you" dari mantannya yang lama, Fattah. Kalimat itu bukan sekadar kata-kata, melainkan simbol validasi dan pengakuan yang selama ini dirindukan dan terasa terlambat datang. Saya pernah melihat bagaimana seseorang dengan BPD bisa sangat cepat beralih dari satu hubungan ke hubungan lain, namun perasaan dan ikatan lama belum hilang sepenuhnya. Sehingga, dalam pikiran dan hatinya, mereka seolah terpaku pada sosok yang dulu menjadi fokus attachment mereka. Ini juga menyebabkan pergolakan emosi yang intens, membuat mereka terkadang sulit menjelaskan atau mengatur perasaannya sendiri. Selain itu, orang dengan BPD cenderung melihat hubungan secara hitam-putih, sulit menerima nuansa abu-abu di antara keduanya. Misalnya, dalam kasus Aqeela, perspektifnya terhadap Fattah sangat idealis dan penuh nostalgia, sementara pada Harry terasa datar dan hambar. Ini bukan karena Harry tidak baik, tapi karena emosi yang terjebak di masa lalu belum terselesaikan. Bagi siapa saja yang memiliki atau mengenal orang dengan BPD, kesabaran dan pengertian sangatlah penting. Jangan langsung menilai perilaku yang tampak membingungkan seperti 'nyuekin pacar sekarang' atau 'berbalik ke mantan' sebagai sesuatu yang sederhana. Di balik itu, ada pertempuran emosi yang berat dan kisah luka yang tidak selesai. Pemahaman ini bukan hanya membantu kita lebih empati tetapi juga membuka jalan untuk mendukung penyembuhan mereka. Terapi, komunikasi terbuka, dan stabilitas emosional sangat dibutuhkan agar mereka bisa membangun hubungan yang sehat dan aman. Dengan berbagi pengalaman pribadi ini, saya berharap pembaca dapat lebih memahami dan menerima kompleksitas yang dihadapi oleh penyintas BPD seperti Aqeela. Semoga juga membuka diskusi lebih luas tentang kesehatan mental dan pentingnya dukungan emosional dalam perjalanan mereka menuju kestabilan dan kebahagiaan sejati.







