Balik lagi di konten random IRT 30++ beranak satu 🤗
Buibu pernah gak?
Mau nolongin teman atau saudara, tapi ujung-ujungnya malah bikin hati kepikiran. Padahal, duit yang dipinjem itu seringnya hasil nahan kebutuhan sendiri
... Baca selengkapnyaAku pribadi pernah ada di dua posisi: jadi yang ngutang dan yang diutangi. Dari pengalaman itu aku makin sadar, utang itu memang kelihatannya cuma angka, tapi yang paling mahal sebenarnya kepercayaan.
Banyak orang bercanda soal "sa janji minggu depan lunasi angsuran" atau janji bayar tanggal segini tapi terus molor. Di media sosial juga sering jadi bahan meme. Tapi kalau kita pikirin dari sudut pandang orang yang ngasih pinjaman, rasanya nggak sesimpel itu. Misalnya kita rela nggak jajan, tunda beli kebutuhan rumah, atau potong uang belanja demi bantu teman, terus dia gampang banget ingkar janji. Bukan cuma dompet yang sakit, tapi hati juga.
Menurutku, kalau memang lagi susah dan belum sanggup bayar, ngomong jujur jauh lebih baik daripada menghilang. Sederhana aja, misalnya: "Maaf ya, aku belum bisa bayar full minggu ini. Bisa nggak aku cicil dulu segini?" atau "Aku butuh waktu sampai gajian depan." Komunikasi kayak gini bikin yang ngasih utang merasa dihargai. Kita mungkin tetap kesal karena uang belum kembali, tapi setidaknya tahu orangnya nggak lari dari tanggung jawab.
Sebaliknya, pura-pura lupa, nggak balas chat, atau malah update story lagi nongkrong, ngopi, atau belanja, itu yang paling bikin hati panas. Di situ kepercayaan mulai runtuh. Yang tadinya saudara dekat bisa jadi canggung, yang tadinya sahabat bisa jadi kayak orang asing. Padahal mungkin nilai utangnya nggak seberapa, tapi sikapnya yang bikin luka.
Sekarang aku punya beberapa batasan sendiri soal ngutang-ngutangi. Pertama, aku selalu anggap uang yang dipinjamkan itu harus siap "ikhlas" kalau memang skenario terburuk terjadi, supaya aku nggak terlalu sakit hati. Kedua, aku pilah siapa yang betul-betul butuh dan siapa yang sering pakai alasan. Ketiga, kalau aku yang ngutang, aku usahakan banget tepat waktu, atau minimal ngomong dulu sebelum jatuh tempo.
Kalau kamu lagi di posisi yang punya utang ke teman atau saudara, mungkin bisa coba cek lagi: sudah sesuai belum sama janji awal? Kalau belum bisa lunas, beranikan diri buat jujur. Karena kadang, orang bukan marah soal uangnya, tapi kecewa karena janji dan rasa percaya yang diabaikan.
Dan kalau kamu di posisi sering dimintai tolong, nggak apa-apa kok punya batas. Nolak dengan halus juga bentuk sayang ke diri sendiri. Misalnya bilang, "Maaf ya, aku lagi nggak ada dana lebih" atau "Aku takut kalau minjemin nanti hubungan kita justru jadi nggak enak." Jujur dari awal jauh lebih baik daripada memendam kesal di belakang.
Intinya, utang itu memang wajar dalam hidup, tapi jangan sampai jadi alasan rusaknya hubungan. Janji untuk melunasi angsuran itu bukan sekadar kalimat manis; di baliknya ada harapan dan kepercayaan orang lain yang perlu dijaga.
setuju kk, kalo aku drpd nanti drama mending gak usah pinjemin deh.. kalo kasihan bgt ya aku cuma pinjemin dikit aja dibalik itu jg siap dg konsekuensi dibalikin syukur, gak jg ikhlasin aja biar gak sakit hati...
tp besok2 kalo minjem lg ya bilang aja gak ada, "gak ada yg mau dipinjemin mksdnya"😂
setuju kk, kalo aku drpd nanti drama mending gak usah pinjemin deh.. kalo kasihan bgt ya aku cuma pinjemin dikit aja dibalik itu jg siap dg konsekuensi dibalikin syukur, gak jg ikhlasin aja biar gak sakit hati... tp besok2 kalo minjem lg ya bilang aja gak ada, "gak ada yg mau dipinjemin mksdnya"😂