Balik lagi di konten random IRT 30++ beranak satu 🤗
Punya dua gaji itu enak… tapi kalau nggak diatur, tetap bisa berantakan. Biar gak saling salah paham dan keuangan sejalan, makanya aku butuh cara untuk ngatur 2 gaji ini biar seimbang dan terkontrol dengan baik.
Kalau buibu juga ngalamin hal yang sama, coba deh pakai sistem yang paling cocok buat keluarga kalian.
... Baca selengkapnyaDulu aku sempat bingung banget soal gaji suami. Rasanya tiap bulan selalu ada uang masuk, tapi entah ke mana perginya. Apalagi karena aku juga punya gaji sendiri, akhirnya dua gaji jalan tanpa sistem, tagihan sering kelewat, dan ujung-ujungnya boncos.
Yang pertama aku lakukan adalah duduk bareng suami, bener-bener ngobrol soal gaji suami dipakai buat apa. Kami mulai dari hal paling dasar: kewajiban. Dari gaji suami, kami sepakati dulu untuk menutup kebutuhan utama rumah seperti belanja bulanan, listrik, air, dan cicilan. Baru setelah itu mikirin pos lain seperti transportasi, pulsa, hiburan, jajan, sampai skincare.
Aku juga belajar kalau penting banget nentuin siapa bayar apa. Misalnya, kami pakai model "bagi tugas": gaji suami fokus ke kewajiban rumah dan cicilan, sedangkan gaji aku lebih banyak untuk belanja harian, kebutuhan anak, dan dana tak terduga kecil. Dengan begitu, gaji suami punya peran yang jelas dan aku nggak sembarangan minta ini-itu tanpa lihat kondisi.
Supaya nggak tercampur, kami pisahkan rekening. Minimal ada rekening operasional rumah yang sumber utamanya dari gaji suami, satu rekening tabungan & dana darurat, dan rekening pribadi masing-masing. Kalau gaji suami masuk, langsung kami bagi ke beberapa pos, jadi nggak numpuk di satu rekening yang bikin kalap belanja.
Hal lain yang bikin kerasa banget bedanya adalah mulai rajin bikin catatan pemasukan dan pengeluaran. Aku tulis detail: berapa gaji suami, berapa gaji aku, apa saja kewajiban bulanan yang dibayar dari gaji suami, dan berapa dana yang boleh dipakai buat jajan atau hiburan. Catatan wajib kami: belanja bulanan, pengeluaran mingguan, dan pengeluaran besar yang tak terduga.
Terakhir, kami bikin "rapat" kecil minimal dua minggu sekali. Aku dan suami cek lagi: gaji suami kemarin dipakai buat apa saja, ada kebocoran atau nggak, apakah pos belanja dan cicilan masih cukup, dan apa kebutuhan anak yang lagi naik. Rapat kecil kayak gini bikin aku lebih paham kondisi keuangan suami, dan suami pun ngerasa aku nggak cuma minta uang tapi juga bantu ngatur.
Pelan-pelan, sistem ini bikin gaji suami lebih terarah, nggak lagi berasa hilang begitu saja. Buibu bisa coba adaptasi sesuai kondisi rumah masing-masing, yang penting gaji suami punya tujuan jelas dan kalian kompak ngaturnya berdua.
aku serahkan kesuami KK, tapi ujungnya aku juga yg bayar pakai uang sendiri