Balik lagi di konten random IRT 30++ beranak satu 🤗
Beberapa hari ini story wa penuh dengan status surat edaran ini, surat edaran tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapot.
Kabar ini juga di sambut baik oleh ibu-ibu, mereka merasa senang dengan surat ini.
Tapi apakah gerakan ini tepat ??
Maksud dan tujuan dari surat ini mungkin baik, karena ingin melibatkan ayah untuk urusan anak nya. Biasanya kan selalu buibu yang tampil ke sekolah untuk urusan anaknya, ayahnya cuma tau cari uang untuk bayar. Wajar aja kalau buibu bahagiaaa sama himbauan ini.
Tapi menurutku ini kurang tepat, karena gak semua anak itu beruntung punya ayah. Ada yang yatim dan ada juga yang ayahnya kerja nya jauh. Nah.. kalau ini di terapkan, apa gak kasian sama anak-anak seperti ini.
Waktu baca surat ini aku langsung kepikiran anakku, soalnya anakku juga ayah nya jauh ☺, beda pulau. Tapi untung nya, sekolah anakku gak menerapkan himbauan ini, bahkan gak share sama sekali. Kata nya takut memberatkan ☺☺. Terima kasih bunda guru 😍.
... Baca selengkapnyaPengalaman saya sebagai ibu di era Gerakan Ayah Ambil Rapot ini memberikan perspektif baru tentang peran ayah dalam pendidikan anak. Dari cerita banyak ibu di komunitas saya, ada yang merasa gerakan ini membawa manfaat besar, yaitu meningkatkan kehadiran ayah dalam perkembangan akademik dan emosional anak. Anak-anak pun menjadi lebih semangat saat ayahnya turut hadir di sekolah.
Namun, tidak bisa dipungkiri beberapa keluarga menghadapi tantangan. Misalnya, ayah yang tugas kerjanya menuntut berada jauh dari rumah sering sulit memenuhi keharusan mengambil rapot secara langsung. Tidak semua anak memiliki ayah yang bisa hadir rutin karena kondisi keluarga yang berbeda, seperti orang tua tunggal atau jarak geografis yang jauh. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak adil atau beban tambahan bagi anak dan ibu.
Saran saya, gerakan ini bisa lebih fleksibel dengan pemberian alternatif, seperti ayah yang tidak bisa datang langsung bisa mengawasi melalui video call atau diskusi intensif dengan guru via online. Sekolah juga perlu peka terhadap kondisi keluarga agar semua pihak merasa nyaman dan nyaman tanpa merasa tertekan. Dengan begitu, spirit keterlibatan ayah dalam pendidikan bisa tetap dijaga tanpa memberatkan keluarga tertentu.
Gambar surat edaran resmi dari Lampung Selatan yang saya lihat menunjukkan harapan pemerintah untuk lebih melibatkan ayah dalam pendidikan anak, namun jelas ini memerlukan pendekatan yang adil dan menyeluruh agar tidak menimbulkan masalah baru. Sebagai seorang ibu, saya menyambut baik upaya melibatkan ayah, asal seimbang dan berpihak pada kondisi keluarga yang beragam.
aku mlah bru dgr berta ini...