Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita terlalu sibuk dengan berbagai pikiran yang memenuhi kepala, hingga lupa untuk memberi ruang pada ketenangan batin. Saya pernah mengalami masa-masa ketika segala masalah terasa menumpuk dan logika saya tidak menemukannya solusi. Pada saat itulah, saya mulai mempraktikkan istighfar secara konsisten, yakni memohon ampun kepada Allah dan berusaha menyerahkan segala urusan pada-Nya. Rasanya luar biasa bagaimana istighfar bisa menjadi jalan keluar saat pikiran buntu. Dengan perbanyak istighfar, hati saya yang semula sempit dan penuh kecemasan menjadi lebih lapang dan damai. Istighfar bukan hanya bentuk pengakuan atas kekurangan diri, tapi juga sarana komunikasi batin yang menghubungkan kita dengan Yang Maha Kuasa, membuka pintu-pintu hidup yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia semata. Saya juga menyadari bahwa tidak semua hal di dunia ini harus dipahami secara logis. Ada kondisi ketika kita harus melepaskan segala upaya mencari jawab secara mutlak dan mempercayakan semuanya pada keputusan Allah. Rutin mengingat dan melakukan istighfar menjadi pengingat diri untuk selalu kembali kepada-Nya, sehingga hati tenang dan lebih siap menghadapi tantangan hidup. Praktik ini bisa dilakukan kapan saja, terutama saat merasa gelisah atau terjebak dalam perasaan sempit. Cobalah untuk mengucapkan istighfar dengan khusyuk, rasakan ketenangan yang perlahan masuk dan melapangkan pikiran serta perasaan. Dengan demikian, istighfar menjadi bukan sekadar bacaan, melainkan pintu yang membuka jalan bagi hati dan jiwa untuk hidup lebih bermakna dan tenteram.
6/4 Diedit ke