Rest in peace brother, Tuhan yang memberikan kekuatan untuk keluarga yang ditinggalkan. STOP BULLY DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN, DAN STOP BULLY DIMANAPUN ITU. #bully#timothy#udayana#bali#universitasudayana
2025/10/18 Diedit ke
... Baca selengkapnyaAku pertama kali dengar tentang kasus Timothy Anugrah Saputra dari media sosial. Jujur, rasanya campur aduk: sedih, marah, dan takut karena jadi keinget lagi pengalaman pribadi saat dibully di sekolah. Nama Timothy Anugrah atau Timothy Anugerah sekarang bukan cuma sebuah nama, tapi simbol betapa seriusnya dampak bullying di lingkungan pendidikan.
Saat baca tulisan "Rest in Peace" untuk Timothy dengan tanggal lahir dan wafatnya, aku jadi mikir, seharusnya nggak ada lagi cerita anak atau mahasiswa yang hidupnya hancur karena perlakuan orang lain. Bullying itu bukan sekadar bercanda. Di gambar yang ada tulisan besar "BULLY" dengan emoji hati retak, aku merasa sangat relate, karena hati korban memang serapuh itu.
Selama SMP dan SMA, aku sering banget jadi bahan candaan. Awalnya kupikir cuma bercanda biasa, tapi lama-lama terasa seperti definisi bullying yang ada di gambar: candaan yang bikin semua orang tertawa kecuali orang yang dicandai. Aku pernah dipanggil nama hewan, dikasih surat dengan isi pelecehan, bahkan difitnah hal-hal yang nggak pernah aku lakukan. Setiap hari ke sekolah rasanya berat, sering pulang sambil nangis dan kepikiran mau pindah sekolah.
Dari pengalamanku, jenis bullying itu lengkap: fisik (meski nggak parah, tapi dorongan, senggolan sengaja itu tetap menyakitkan), verbal (ejekan dan ancaman), sosial (dikucilkan dari kelompok), dan siber lewat chat atau media sosial. Yang bikin ngeri, banyak orang di sekitar menganggap itu "normal" atau cuma bercanda. Sama seperti orang yang merokok sembarangan dan dinormalisasi, bullying di sekolah dan kampus sering dianggap hal biasa, padahal efeknya bisa kebawa seumur hidup.
Kasus Timothy Anugrah membuat aku sadar kita perlu berani bersuara. Kalau lihat ada teman dibully, jangan cuma diam atau ikut tertawa. Minimal, hampiri korban dan bilang kamu ada buat mereka. Di kampus atau di Universitas Udayana, dan di semua universitas lain, harusnya ada sistem pelaporan bullying yang jelas dan aman, supaya mahasiswa nggak takut melapor.
Buat kamu yang mungkin searching tentang "Timothy Anugrah" atau "Timothy Anugerah" karena penasaran dengan kasusnya, aku cuma ingin mengajak: jadikan cerita ini sebagai titik balik. Coba evaluasi cara kita bercanda, cara kita komentar di media sosial, dan cara kita memperlakukan orang di sekitar. Kita nggak pernah tahu seberapa berat beban yang lagi mereka tanggung.
Kalau kamu korban bullying, kamu nggak sendirian. Cari orang dewasa yang kamu percaya, guru BK, dosen, atau teman dekat. Tulis pengalamanmu, kalau perlu bagikan di media sosial supaya orang tahu bullying itu nyata dan menyakitkan. Semoga dengan makin banyak yang berani cerita, kasus seperti yang menimpa Timothy tidak terulang lagi, dan lingkungan pendidikan kita benar-benar jadi tempat yang aman untuk belajar, bukan medan perang mental.