Berlimpah

Apakah Anda mengenal seseorang yang terus-menerus memberi?

Mereka bermurah hati dalam perkataan, tidak egois dengan waktu mereka, dan uang mereka. Namun, entah bagaimana, mereka sepertinya selalu punya sesuatu untuk diberikan.

Penulis kitab Mazmur, yang dikaitkan dengan Raja Salomo, menulis ini:

"Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,

siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum."

Amsal 11:25 TB

Raja Salomo tahu satu atau dua hal tentang kemurahan hati. Kenyataannya, Alkitab memberitahukan kita: "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat." (1 Raja-raja 10:23 TB). Tapi beliau juga murah hati, menghabiskan bertahun-tahun hidupnya membiayai dan membangun Bait Suci di Yerusalem, sembari membagikan apa yang beliau pelajari dengan orang lain.

Beberapa dari orang yang paling mengenaskan di bumi adalah orang yang juga paling egois di bumi. Namun jika Anda pernah bermurah hati dengan hidupmu–baik memberi dukungan keuangan, berkontribusi dalam keahlian Anda, menginvestasikan waktu Anda, membuka rumah Anda, atau menawarkan dukungan rohani, emosi, dan fisik–Anda tahu dari pengalaman: mereka yang memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Tentu saja, kita bukan memberi karena ingin menerima. Dan kita juga harus menerapkan hikmat Tuhan saat menetapkan batasan dan menghindari kelelahan. Tapi Yesus adalah Raja atas Kerajaan yang bertolak belakang dengan dunia, di mana:

Yang terakhir akan jadi yang pertama.

Yang terbesar akan menjadi pelayan.

Mereka yang kehilangan nyawanya akan memperolehnya.

Yesus bahkan menceritakan kisah tentang seorang perempuan miskin yang memberi lebih dari orang lain–karena dia memberikan segala yang dia miliki (Markus 12:41-44).

Anda tidak perlu kaya untuk dapat bermurah hati; Anda hanya perlu hati yang mau melayani.

Jadi hari ini, miliki pola pikir yang berlimpah, dan bukannya miskin. Tuhan kita memiliki kekuatan, kuasa, dan sumber daya yang tak terbatas.

#renungankristen #renunganharian #motivasi

2025/12/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMengalami sendiri manfaat dari sikap bermurah hati membuat saya semakin terinspirasi oleh ayat Amsal 11:25. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, ada keinginan untuk menahan diri dan takut kehilangan jika terlalu banyak memberi, terutama dalam hal waktu dan sumber daya. Namun, setelah mencoba memberi dengan ikhlas, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Selain mendapatkan kepuasan batin, saya juga sering menerima kembali dalam bentuk yang tidak terduga, seperti dukungan emosional dari orang sekitar, kesempatan baru, atau bahkan penyelesaian masalah pribadi. Selain itu, melalui berbagi, saya belajar pentingnya menyeimbangkan kemurahan hati dengan kebijaksanaan. Kita harus mengatur batas agar tidak kelelahan, dan memberi dengan cara yang bijak agar mampu bertahan dan terus menebar kebaikan. Melihat kutipan Alkitab yang diilustrasikan pada gambar alat bantu artikel ini, saya semakin termotivasi untuk menumbuhkan pola pikir yang berlimpah, yakin bahwa Tuhan menyediakan sumber daya yang tak terbatas bagi yang mau memberi dan melayani. Saya juga merasakan bagaimana kisah perempuan miskin dalam Markus 12:41-44 menjadi contoh nyata bahwa kemiskinan materi bukan halangan untuk bermurah hati. Melayani dengan hati yang tulus jauh lebih penting daripada seberapa banyak yang kita berikan. Jadi, jika Anda sedang menghadapi keraguan untuk memberi, saya sarankan mulai dari hal kecil dan perhatikan bagaimana hidup Anda mulai berubah menjadi lebih berkah dan bermakna.