Kenapa tidak boleh meniru perbuatan yg tidak baik?
3 Yohanes 1:11 (TB) berbunyi: "Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah."
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi berbagai pilihan, termasuk apakah akan mengikuti perbuatan baik atau buruk yang kita lihat di sekitar kita. Berdasarkan ajaran dari 3 Yohanes 1:11, meniru perbuatan jahat berarti menjauh dari Allah dan kebaikan sejati. Dari pengalaman saya, ketika saya mencoba untuk tidak mengikuti kebiasaan buruk teman-teman di lingkungan sekitar, saya merasa hidup lebih tenang dan hubungan saya dengan keluarga serta teman menjadi lebih harmonis. Meniru perbuatan yang tidak baik tidak hanya berdampak buruk bagi diri sendiri, tetapi juga bisa menimbulkan efek negatif bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Contohnya, sikap tidak jujur atau berbohong mungkin tampak mudah dan menguntungkan sesaat, namun lama-kelamaan akan merusak kepercayaan dan nilai integritas seseorang. Oleh karena itu, meneladani perbuatan baik jauh lebih bernilai dan membawa dampak positif baik secara spiritual maupun sosial. Dalam konteks ajaran Alkitab, hal ini tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial. Saya percaya bahwa dengan berusaha untuk selalu berbuat baik, kita dapat menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan bagi lingkungan kita dan diri sendiri.
