يكفي أن تكون الأفضل في نظر الله، لا في نظر البشر. لماذا؟ لأن الله يحكم علينا بالقلب، بينما يحكم علينا البشر بأعينهم.
Cukuplah menjadi yang terbaik dalam penilaian Allah, jangan penilaian dari manusia. Kenapa? Karena Allah menilai kita dengan hati sedangkan manusia menilai kita dengan matanya.
... Baca selengkapnyaKalimat "pada akhirnya pilihan terbaik dari setiap kejadian adalah menerima memaafkan dan mengikhlaskan" itu kerasa klise, tapi jujur ini yang paling susah aku jalani. Apalagi kalau habis disakiti atau dikecewakan orang yang kita sayang. Rasanya pengin diakui, pengin dimengerti, pengin orang tahu kalau kita yang paling terluka.
Pelan-pelan aku belajar, fokus ke pandangan manusia itu bikin capek. Hari ini dipuji, besok bisa dijatuhkan. Manusia menilai dari apa yang kelihatan: penampilan, status, pencapaian. Padahal yang Allah lihat itu hati dan proses. Di titik ini aku mulai mencoba menerima setiap kejadian sebagai bagian dari rencana Allah, meski masih sering nggak paham kenapa sesuatu harus terjadi.
Menerima itu buatku bukan pasrah tanpa usaha, tapi berhenti melawan takdir yang sudah lewat. Contohnya ketika gagal, dulu aku sibuk menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Sekarang aku belajar bilang ke diri sendiri: "Oke, ini memang sudah terjadi. Apa yang bisa aku pelajari?" Rasanya lebih ringan, meski tetap butuh waktu.
Lalu soal memaafkan. Ini yang paling berat, terutama kalau luka datang dari orang terdekat. Aku pernah simpan sakit hati bertahun-tahun, dan ternyata yang paling tersiksa malah diriku sendiri. Memaafkan bukan berarti melupakan atau mengizinkan orang mengulangi kesalahan, tapi melepaskan beban benci di hati. Kadang aku doakan, "Ya Allah, lapangkan hatiku untuk memaafkan, meski aku belum sanggup melupakan." Pelan-pelan, hati jadi lebih tenang.
Mengikhlaskan adalah level lanjut setelah menerima dan memaafkan. Buatku, ikhlas itu ketika kita sudah nggak lagi terus-menerus menanyakan "kenapa aku?", tapi mulai bisa berkata, "Ya Allah, aku percaya ini yang terbaik versi-Mu." Sama seperti kutipan di gambar latar rak buku tua itu, aku diingatkan bahwa yang terpenting adalah jadi yang terbaik di mata Allah, bukan di mata manusia. Saat mencoba ikhlas, aku merasa lebih dekat dengan Allah, lebih banyak curhat dalam doa, dan anehnya, beban yang berat tadi terasa sedikit lebih ringan.
Kalau kamu lagi di fase sulit, mungkin saatnya berhenti cari pembenaran di mata orang lain. Coba arahkan lagi ke Allah: perbaiki hati, kuatkan ibadah, dan biarkan waktu membantu menyembuhkan. Pada akhirnya, menerima, memaafkan, dan mengikhlaskan bukan tanda kita lemah, tapi justru bukti kalau hati kita sedang tumbuh dan belajar dewasa di hadapan Allah.