DEMANG LEHMAN
Panglima Perang Kesultanan Banjar yang sampai sekarang masih jadi simbol perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap Belanda.
1. Siapa Demang Lehman?
- Nama asli: Idis / Idies / Idris
- Lahir: 1832 di Martapura / Barabai, Hulu Sungai Tengah
- Gelar: Kiai Demang, kemudian Adhipattie Mangko Nagara / Adipati Mangku Negara
"Demang" itu jabatan kepala distrik/lalawangan di Kesultanan Banjar
- Awalnya: panakawan / ajudan Pangeran Hidayatullah II sejak 1857. Karena setia dan cakap, diangkat jadi kepala Distrik Riam Kanan
Beliau pegang pusaka Keris Singkir dan tombak Kaliblah dari Sumbawa
2. Peran di Perang Banjar 1859-1905
Perang Banjar meletus karena Belanda mengingkari wasiat Sultan Adam yang menyerahkan takhta ke Pangeran Hidayatullah II
Tugas Demang Lehman dari Pangeran Antasari:
- Menghimpun kekuatan dan memimpin perlawanan di Martapura & Tanah Laut bersama Kiai Langlang dan Penghulu Buyasin
- Jadi tangan kanan Pangeran Antasari & Pangeran Hidayatullah
Prestasi penting:
1. 30 Agustus 1859: Menyerbu Keraton Bumi Selamat dengan 3.000 pasukan. Letnan Kolonel Belanda nyaris tewas
2. Benteng Tabanio, Tanah Laut: Dengan 300 pasukan, berhasil merebut benteng Belanda. Saat diserbu balik, 9 serdadu Belanda tewas. Dia mundur tanpa korban saat kapal perang Belanda tembak dari sungai
3. Taktik: Gerilya kilat, menyerang tiba-tiba. Belanda sampai kewalahan dan mengirim banyak kapal perang untuk menumpasnya
Sikapnya tegas: "Damai bagi Demang Lehman berarti harus angkat kaki dari Bumi Banjar". Dia menolak tawaran Belanda berupa gaji bulanan untuk membujuk Pangeran Hidayatullah
3. Penangkapan & Eksekusi
Setelah Pangeran Hidayatullah ditipu dan diasingkan ke Cianjur, Demang Lehman mengatur kekuatan lagi di Gunung Pangkal, Batulicin
Tapi dia dikhianati. Seorang bernama Pembarani tergiur hadiah gulden dari Belanda dan menjebaknya
27 Februari 1864 di Martapura, umur 32 tahun, beliau dihukum gantung. Vonisnya: "melakukan perlawanan bersenjata terhadap otoritas yang sah"
Menariknya, saat dieksekusi beliau sedang berpuasa Ramadhan. Sikapnya sangat tenang, bahkan bangga melewati kerumunan
4. Misteri Kepala yang Hilang
Ini bagian paling pilu. Setelah digantung, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Belanda oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Katanya sekarang disimpan di Museum Leiden
Jadi jasadnya dimakamkan di tanah Banjar tanpa kepala. Sampai sekarang masih ada upaya repatriasi untuk memulangkan kepalanya
5. Makna & Warisan
Demang Lehman diingat sebagai simbol "Waja Sampai Kaputing" - baja sampai ujung rambut, pantang menyerah. Pesannya: "Tanah Banjar apabila tidak dibayar dengan air mata darah, selamanya akan digenggam Belanda"
Di Kalimantan Selatan, perjuangannya diperingati lewat ziarah dan upacara. Fotonya terpajang di Museum Lambung Mangkurat
Singkatnya: beliau bukan raja, tapi seorang ajudan yang naik karena loyalitas, lalu jadi panglima paling ditakuti Belanda. Gugur muda, tapi semangatnya hidup terus.





























