Emang sih ya cuma komentar, tapi bikin kena mental #fujian #radityadika #podcast #tiktoktainment
Kalau ngomongin contoh komentar negatif di media sosial, jujur aku dulu mikirnya, "ah cuma teks doang, tinggal di-skip." Tapi setelah ngalamin sendiri, kerasa banget gimana satu kalimat bisa kebawa berhari-hari. Apalagi kalau lihat For You Page atau TikTok kamu ada komentar-komentar yang nyentil hal sensitif, itu rasanya kayak diserang rame-rame, padahal yang nulis cuma beberapa akun. Jenis komentarnya macam-macam. Ada yang bungkusnya bercanda, tapi intinya body shaming, merendahkan, atau ngeremehin usaha kita. Ada juga yang komen, "lebay banget nangis gara-gara gitu doang," atau "attention seeker," padahal mereka nggak tahu apa yang lagi kita hadapi di real life. Komentar kayak gitu tuh bisa bikin kita jadi overthinking, ngeraguin diri sendiri, sampai ngerasa nggak layak buat muncul di media sosial. Pernah juga ada fase di mana komentar netizen itu sempat membuat aku bener-bener ke-trigger. Awalnya mungkin level satu: cuma bete dikit, baca lalu scroll. Tapi makin ke sini, pas lagi mental drop dan ADHD aku kambuh, aku jadi semakin nggak bisa kontrol fokus aku, emosi, segala macam gitu loh. Satu komen pedas bisa kebawa sampai mau tidur, terus jadi susah konsentrasi kerja atau kuliah. Di titik itu aku mikir, "kayaknya ini udah level 10 deh, bukan sekadar kesel biasa." Waktu 2023, pas umur baru 20-an, itu salah satu tahun paling berat buatku. Bukan cuma soal komentar netizen, tapi semua hal numpuk: masalah pribadi, tekanan dari konten, plus diagnosis ADHD yang bikin aku sadar kenapa dari dulu susah fokus dan gampang kebawa emosi. Akhirnya aku pernah cari bantuan profesional, ke psikolog. Banyak yang kira bantuan profesional itu cuma buat orang yang "parah", padahal menurutku justru bagus kalau kita datang sebelum benar-benar jatuh. Di sesi konseling, aku belajar bedain mana kritik membangun dan mana komentar toxic. Kritik yang sehat biasanya jelas, fokus ke karya, dan punya saran konkret. Komentar negatif di media sosial yang perlu diwaspadai biasanya nyerang pribadi, pakai kata-kata kasar, atau sengaja bikin kita malu. Dari situ aku mulai pelan-pelan belajar buat: 1. Kurasi timeline sendiri: mute, block, atau restrict akun yang sering nyebar negatif. Bukan berarti kita lemah, tapi kita lagi jagain kesehatan mental. 2. Bikin batasan waktu main sosmed, supaya saat lihat komentar pedas kita nggak lagi di kondisi capek atau sensi banget. 3. Ngobrol sama orang yang dipercaya. Kadang cuma dengan cerita, perasaan sesak karena komentar-komentar itu bisa agak lega. Sekarang, komentar netizen memang masih ada dan kadang masih sensi juga kalau kebetulan kena di titik lemah. Tapi jujur, nggak separah dulu sih. Kalau kamu juga lagi struggle karena komentar negatif di media sosial, valid banget kok kalau kamu ngerasa sedih atau nangis. Itu bukan berarti kamu lemah. Kalau memang udah kebangetan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, nggak apa-apa banget buat pertimbangin bantuan profesional, entah psikolog kampus, layanan konseling online, atau klinik terdekat. Pelan-pelan aja, yang penting kamu nggak hadapi semua itu sendirian.
