Pameran Seni Nandur Srawung #12

Taman Budaya Yogyakarta
2025/10/17 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAku sempat lama banget berhenti di bagian karya yang nuansanya mirip wayang hitam putih. Walaupun bukan pakem wayang klasik, beberapa seniman di Nandur Srawung #12 mainin simbol-simbol khas Jawa, kayak gunungan wayang emas yang dikelilingi figur, hewan, sampai rumah terbakar. Buat aku ini kerasa kayak kolase wayang versi kontemporer: potongan gambar, teks, dan ekspresi yang disusun jadi satu cerita besar. Menariknya, pameran ini bukan tipe pameran yang hanya menampilkan karya seorang seniman, tapi wadah bareng-bareng banyak perupa. Rasanya lebih kaya, karena tiap karya punya sudut pandang sendiri soal tema “Eling | Awakening”. Ada yang main di ranah emosional, ada yang lebih politis, ada juga yang pakai simbol budaya lokal macam wayang, warok, dan figur-figur mitologis. Kalau kamu suka karya seniman seperti Christine Ay Tjoe yang terkenal dengan garis ekspresif dan komposisi yang padat, kamu mungkin bakal enjoy beberapa karya kolase dan lukisan abstrak di pameran ini. Banyak detail kecil yang baru kebaca setelah kita berdiri agak lama di depan karya, misalnya fragmen teks, pola-pola rumit, dan susunan potongan kertas hitam putih yang dinamis. Salah satu bagian favoritku adalah dinding penuh tempelan kertas warna-warni berisi tulisan tangan pengunjung tentang “rumah” dan “ibu”. Rasanya kayak diajak eling ke hal-hal yang kelihatan sepele, tapi ternyata sangat membekas. Di sisi lain, ada gambar kera perkasa bermahkota duduk di singgasana, digambar detail hitam putih. Kesan yang muncul buatku seperti menyatukan dunia wayang, makhluk mitologis, dan kritik sosial dalam satu frame. Buat yang lagi belajar cara menggambar warok atau karakter khas Jawa lain, datang ke pameran kayak gini bisa jadi referensi visual yang seru. Kamu bisa perhatiin bagaimana seniman memainkan gestur tubuh, kostum, kain merah, tulisan “FRAGILE” di wajah figur, sampai ekspresi lewat warna merah, hitam, dan abu-abu. Dari situ, kita bisa nyontek cara mereka membangun karakter: mulai dari siluet, atribut (tongkat, kain, mahkota), sampai suasana latar. Beberapa karya juga pakai teknik kolase wayang: menggabungkan simbol tradisional (kayak gunungan) dengan elemen modern seperti teks, foto wajah, dan pola grafis. Kalau kamu tertarik bikin kolase sendiri, tips simpel dari pengalamanku: kumpulkan dulu potongan gambar yang temanya sama (misalnya tentang rumah, ingatan, atau sosok pahlawan), lalu susun di lantai sampai kamu nemu komposisi yang pas sebelum direkatkan ke media. Jangan takut ruang kosong, karena itu bisa jadi ‘napas’ di karya kamu. Secara keseluruhan, Nandur Srawung #12 di Taman Budaya Yogyakarta ini kerasa kayak ruang latihan “eling” bareng-bareng lewat seni. Dari lukisan mangkuk putih berisi bunga kuning, figur bersarung kain merah dengan bunga teratai, sampai instalasi kain merah bernoda dan mawar kering, semuanya ngajak kita berhenti sebentar dan mikir: lagi terjaga atau masih tertidur terhadap realitas di sekitar kita?