Post power syndrome adalah kondisi psikologis dan emosional berupa stres, kecemasan, atau depresi yang dialami seseorang (umumnya pensiunan) akibat kehilangan jabatan, kekuasaan, status sosial, atau rutinitas kerja. Penderita sulit menerima kenyataan, merasa tidak berharga, dan terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu.
Post Power Syndrome bukan hanya dialami oleh individu biasa, melainkan juga oleh tokoh-tokoh penting seperti presiden yang sudah menyelesaikan masa jabatannya. Saya pernah membaca dan menyaksikan secara langsung bagaimana para mantan pemimpin menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka setelah turun dari jabatan. Salah satu tantangan terbesar adalah penyesuaian diri dengan kehilangan posisi kekuasaan yang selama ini menjadi bagian utama identitas mereka. Sebagai contoh, Presiden Jokowi disebut mengalami Post Power Syndrome, suatu kondisi yang wajar terjadi karena pergeseran besar dalam rutinitas dan peran sosial. Beban mental yang datang dari kehilangan otoritas dan pengaruh bisa menyebabkan stres dan kecemasan. Namun, pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat membantu dalam proses adaptasi ini. Selain itu, menjaga aktivitas produktif dan menemukan tujuan baru dalam kehidupan setelah pensiun sangat penting untuk mengatasi gejala-gejala seperti rasa tidak berharga dan terjebak dalam masa lalu. Banyak mantan pemimpin berhasil mengisi waktu mereka dengan kegiatan sosial, pendidikan, atau advokasi yang dapat memberikan makna baru serta tetap menjaga koneksi dengan masyarakat. Kesadaran akan budaya dan pola pikir juga berperan penting. Misalnya, budaya Jawa yang kental dengan nilai kerendahan hati dan penerimaan bisa membantu para mantan pemimpin merelakan masa lalu dan memulai babak baru dengan lebih lapang dada. Hal ini juga terlihat dari upaya beberapa tokoh untuk tidak memperpanjang masa kekuasaan, melainkan fokus pada kontribusi lain di luar jabatan formal. Pengalaman pribadi dalam mendampingi orang-orang yang mengalami perubahan besar dalam hidup mengajarkan saya bahwa menghadapi Post Power Syndrome memang tidak mudah, tetapi bukan hal yang tak mungkin diatasi. Fokus pada pengembangan diri, menjalin hubungan sosial yang sehat, dan menerima kenyataan dengan pikiran terbuka menjadi kunci utama agar tetap berdaya dan merasa dihargai, meskipun tak lagi berada di puncak kekuasaan. Dengan memahami fenomena ini lebih dalam, kita bisa lebih empati terhadap para mantan pemimpin dan siapa saja yang mengalami transisi hidup serupa, membantu mereka menemukan makna baru, dan menjaga kesehatan mental demi masa depan yang lebih cerah.
