Pada awal tahun 2000-an, tensi hubungan antara Korea Utara & Korea Selatan memanas. Korea Selatan kelimpungan cari nama yang mampu sebagai juru dialog.
Pasalnya tidak mudah untuk meyakinkan Pemimpin Besar Korea Utara Kim Jong II untuk diajak bicara baik-baik.
Ada pun Kim Jong Il adalah ayah dari pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Un.
Beberapa nama tiba di meja Kim Jong Il sebagai utusan khusus (special envoy) tapi ditolak.
Sampai muncul satu nama. Perempuan. Namanya Megawati Soekarnoputri.
Mega langsung tancap gas. la berani bilang mau berkunjung ke Korea Utara.
Kim Jong Il dengan tangan terbuka menyiapkan akses khusus buat Mega buat datang ke Kota Pyongyang Korea Utara pada 28 Maret sampai 30 Maret 2002.
Kedatangan Mega disambut gegap gempita. Sama ketika ayah Kim Jong Il yaitu Kim Il Sung menyambut kedatangan Soekarno tahun 1964.
Pendekatan Mega tidak langsung bicara politik. la memulai percakapan soal bunga anggrek & budaya.
Kim Jong II terpukau. Kalau bahasa anak Medan "soor" dengan kepribadian Mega. Sampai-sampai Kim Jong Il langsung datang ke Wisma Negara di Pyongyang tempat Mega menginap buat diskusi.
Mega gak lupa misinya. Mendinginkan eskalasi Korea Utara & Korea Selatan. Mega kasih masukan ke Kim Jong I| & diterima.
Dari Korea Utara, Mega langsung menyebarang ke Korea Selatan. la menyampaikan pesan dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il kepada Presiden Korea Selatan Kim Dae Jung.
Dampaknya eskalasi mulai dingin. Mega berhasil mendamaikan Korea Utara & Korea Selatan agar jangan melakukan perang terbuka.
Tak banyak orang seperti Mega, mungkin satu-satunya manusia di bumi ini yang diterima di tataran elit Korea Utara & Korea Selatan. Mega adalah jembatan komunikasi di Semenanjung Korea.
Poinnya adalah jika seseorang ingin menjadi juru damai maka ia harus bisa diterima pada masing-masing pihak yang berkonflik.
Akhir-akhir ini banyak yang menuduh Mega dengan narasi mendukung Syah karena surat dukanya atas kematian Ali Khamenei. Itu narasi sesat & insinuasi tak berdasar.
Tabiat Mega memang demikian, ia suka sekali mendamaikan. la mirip sekali dengan bapaknya, Soekarno yang suka menggalang persaudaraan & perdamaian bangsa-bangsa.
#megawatisoekarnoputri #indonesia #koreautara #koreaselatan #perdamaian
Pengalaman Megawati Soekarnoputri menjadi juru damai antara Korea Utara dan Selatan mengajarkan banyak hal tentang pentingnya pendekatan personal dalam diplomasi. Dalam dunia yang penuh konflik, sering kali dialog langsung dan kepercayaan adalah kunci utama membuka komunikasi yang sebelumnya tertutup rapat. Saya pernah membaca bagaimana Megawati tidak langsung membicarakan politik saat pertemuannya dengan Kim Jong Il, melainkan memulai dari hal-hal sederhana seperti bunga anggrek dan budaya, yang justru membuat suasana hati dan pikiran lawan bicara menjadi lebih terbuka. Pendekatan seperti ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa membangun hubungan kemanusiaan menjadi fondasi penting sebelum membahas isu-isu berat. Di sisi lain, keberanian Megawati untuk mengunjungi Pyongyang pada masa ketegangan tinggi merupakan contoh nyata bagaimana tindakan langsung dan kehadiran fisik mampu menghantarkan pesan damai lebih kuat daripada sekadar kata-kata di media. Ini merupakan pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin berperan sebagai mediator di tengah konflik. Sebagai orang Indonesia, tentu kita patut bangga memiliki tokoh yang mampu mengemban misi perdamaian internasional yang sulit, sekaligus mencontoh semangat perdamaian dan persaudaraan yang diwariskan oleh keluarga Soekarno. Megawati memperlihatkan bahwa ketulusan dan niat baik dalam diplomasi dapat menembus batas ideologi dan politik. Sementara itu, rumor negatif yang muncul terhadap Megawati selama ini justru mengingatkan kita pentingnya menilai informasi secara kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang tidak berdasar. Juru damai sejati seringkali menjadi sasaran kecemburuan atau fitnah, namun fakta kontribusinya dalam meredakan konflik adalah warisan yang tidak ternilai. Melalui kisah ini, saya pribadi semakin yakin bahwa membangun perdamaian membutuhkan keberanian, ikhtiar personal, dan kesiapan menerima perbedaan. Semoga lebih banyak pemimpin dan individu yang terinspirasi untuk menjadi jembatan komunikasi yang damai di berbagai belahan dunia, mengikuti jejak Megawati Soekarnoputri.




















