yang baru aku sadari

Kec. Padangan
5/18 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSetelah menyadari bahwa beberapa kebiasaan kita selama ini mungkin dipengaruhi oleh luka inner child, saya mulai berusaha memahami lebih dalam tentang bagaimana pengalaman masa kecil membentuk perilaku saat ini. Misalnya, saya sendiri menyadari sering merasa sulit bercerita dan sering minta maaf, bahkan ketika saya tidak bersalah—sebuah pola yang ternyata berasal dari rasa tidak nyaman dan ketakutan yang pernah saya alami saat kecil. Proses penyembuhan yang saya lakukan tidak instan. Saya memilih untuk pelan-pelan belajar menyayangi diri sendiri dan menerima bagian kecil dari diri saya yang dulu terluka. Hal ini termasuk memberi ruang untuk merasakan dan mengizinkan diri saya untuk tidak sempurna. Salah satu teknik yang saya coba adalah menguatkan self-acceptance melalui afirmasi positif seperti, "Semoga versi kecil dari dirimu bisa merasa dipeluk hari ini." Dalam perjalanan ini, saya juga belajar untuk tidak memendam perasaan negatif dan mulai berbagi cerita dengan orang terpercaya. Hal itu sangat membantu untuk melunakkan beban batin yang selama ini saya simpan sendiri. Terlebih lagi, dengan memahami inner child, saya jadi lebih mampu memahami perasaan dan reaksi saya saat ini, sehingga bisa lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi masalah. Melalui perjalanan ini, saya menyadari pentingnya memberi perhatian pada bagian diri kita yang terluka, bukan untuk membenci masa lalu, tapi untuk terus berkembang menjadi versi diri yang lebih sehat dan bahagia. Saya percaya, proses penyembuhan inner child ini adalah perjalanan setiap orang yang ingin hidup lebih damai dan penuh cinta terhadap dirinya sendiri.