cokaiba
#ASAL _USUL_ISTILAH_COKAIBA.
Sumber buku : "MEF Cokaiba, Budaya Topeng Tiga Negri Fagogoru"
Penulis Buku : Abd. Samad Addin
Hal Buku : 48 - 50
Istilah "Cokaiba" berasal dari bahasa tidore yang artinya kurang lebih rupa setan atau "Setan Hutan, dan sampai skarang nama cukaiba di pakai secara umum karena memang selama ini tidak ada komplein dari komunitas fagogoru.
Cerita asal usul mengapa tradisi mef (Topeng) fagogoru kemudian di sebut cukaiba itu ada beberapa versi.
#VERSI _PERTAMA :
"Cokaiba" berawal dari awal mula ungkapan dari tiga tokoh sentral dalam sejarah negri fagogoru.
Di ceritakan bahwa para pemimpin ini menebak orang yang menggunakan mef (Topeng) dalam salah satu ritual maulur. Akan tetapi mereka selalu saja salah menebak siapa sebenarnya orang yang memakai mef (topeng) tersebut.
Sehingga Pemimpin dari maba atau wlon mobon berkata : "Ah Ipa Ce" yang artinya : Bukan Dia.
Pemimpin dari patani atau wlon photon juga berkata : "Ye Ta Ipa" artinya : Bukan Dia
Begitupun Pemimpin dari weda atau wlon were berkata : "Ii Cogo Ipa" Artinya : bukan dia
Kemudian salah seorang sultan dari tidore yang kebetulan hadir menyaksikan tradisi Maulur tersebut, menyangka bahwa ungkapan pemimpin dari weda tentang "Coga Ipa" adalah nama dari tradisi adat budaya fagogoru, setelah itu dia pun menyebut ritual ini dengan istilah "Coka iba" atau setan hutan dalam bahasa tidore yang merupakan pelestarian dari "Coga Ipa". Tapi sangat di sayangkan karena versi ini tidak merekam siapa nama sultanya dan pada tahun berapa perayaan itu di lakukan.
#VERSI _KE_DUA
Ada juga cerita yang mengatakan bahwa ada dua peristiwa pemberontakan yang pernah terjadi dan itu dilakukan oleh masyarakat Maba, Patani dan Weda.
Konon terjadi peperangan yang panjang. Pada saat itu pasukan Maba, Patani dan Weda suda terbiasa menggunakan "Mef"(Topeng). Dan mereka menggunakan Mef (Topeng) ketika pemberontakan terjadi, dan memang pada masa pergolakan dahulu, masyarakat fagogoru selalu membela pemberontakan.
Mulai dari pemberontakan sultan nuku, pemberontakan atas nama sultan-sultan jailolo dan juga pemberontakan melawan kesultanan tidore saat itu,, karena penetapan upeti oleh kesultanan tidore pada tahun 1716 M. karna sultan tidore jengkel dengan pemberontakan yang menggunakan "Mef"/Topeng, lalu sultan tidore berucap "Cokaiba" dari gambrang e. Istilah ini menjadi populer,, kemudian di identikkan dengan budaya mef/topeng dari fagogoru atau gambrange.
Menurut penulis : "Abdul Samad Addin" "Asal usul penggunaan istilah "Cokaiba" dalam tradisi budaya "Mef"(Topeng) fagogoru. Dari dua versi di atas belum bisa di pastikan mana yang harus di ikuti tapi yang pasti bahwa yang menjadi faktor dominananya adalah adanya legitimasi dari sistem kekuasaan".
Artinya ucapan raja atau sultan itu, menjadi legitimasi penggunaan istilah "Cokaiba" (Setan Hutan) dalam budaya "Mef" (Topeng) tersebut. Meskipun pada hakikatnya istilah Cokaiba atau setan hutan ini tidak bersesuaian dengan semangat dan nilai moral budayanya juga dari hakikat dan semangat ritual "Maulur" sebagai ritual keagamaan.
Mungkin ada Versi lain selain ini,, bisa di diskusikan.!!
@sorotan













