Apa cuma aku aja atau kalian juga merasa begitu?
Apa cuma Aku.....
ada yang sama gak ...?
Holla hallo lemonades
jadi seseorang yang selalu disalahkan dalam hal apapun...itulah yg kualami. setiap apa yg kukerjakan selalu selah dimata my mam....panaskan sambal lupa sampai hangus ujung2nya ribut. pulang dari haji dan umrah rumah g bersih ribut. Pulang dari jalan2 capek ribut...pulang dari rumah anak2 yang lain capek ribut.....kesal dg anak yang lain dilampiaskan ke ke aku rjbut ....n masih banyak yg lainnya....
Intinya semua salah gak ada yang benar.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
apa cuma aku atau kalian juga merasa begitu?
Sekarang untuk hal begitu aku atas solusi suami mengambil sikap. Lebih baik jauh2 daripada dekat, lebih baik pergi daripada selalu dirumah ortu. Cukup sekali sekali bertemu, kalau gak penting g usah bicara, tidak usah berpendapat karena gak di dengar juga, lebih baik diam... Dengan begitu saat ketemu ada rasa rindu dan kehangatan antara aku dan my mam. dan alhamdulillah sampai sekarang hidupku dan my mam akur dan aku jg gak dianggap anak durhaka.
BAgi mama2 lemonades yang sma seperti aku, boleh coba cara ini agar kita tidak jadi anak durhaka
Sesuai pengalaman yang banyak saya temui, merasa selalu disalahkan oleh orang tua memang tidak mudah ditangani. Kadang kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, namun tetap saja ada saja salahnya di mata mereka. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan persepsi, tuntutan yang tidak terucap, atau bahkan stres yang dialami orang tua. Saya pernah mengalami situasi serupa, di mana setiap langkah dan tindakan kecil saya menjadi sasaran kritik. Mulai dari hal-hal sederhana seperti memasak, merapikan rumah, hingga aktivitas sosial pun sering disalahartikan. Awalnya saya merasa sangat frustrasi dan tertekan, bahkan sempat ingin menjauh dari keluarga. Namun, saya mencoba menerapkan pendekatan yang sama seperti yang disampaikan dalam artikel ini: menghindari konflik dengan menjaga jarak emosional ketika situasi sedang panas. Ini bukan berarti menjauh secara permanen, melainkan memberikan ruang agar suasana hati semuanya bisa lebih tenang. Saya juga belajar untuk lebih banyak diam dan memilih waktu yang tepat untuk berdiskusi. Hasilnya cukup positif. Saat saya datang dengan hati yang lebih rileks tanpa membawa ketegangan, komunikasi dengan orang tua menjadi lebih lancar. Kami mampu bertukar cerita tanpa merasa disalahkan. Ini sangat membantu menjaga kehangatan hubungan tanpa harus merasa sebagai anak yang durhaka. Bagi yang mengalami hal serupa, saya sarankan juga untuk mencari dukungan dari pasangan atau sahabat sebagai tempat berbagi dan melepas beban emosional. Terkadang, perasaan selalu disalahkan membuat kita merasa sendirian. Dengan dukungan yang tepat, kita bisa lebih kuat menghadapinya. Ingatlah bahwa setiap keluarga unik dan dinamika hubungan bisa berbeda. Yang penting adalah menjaga sikap sabar, komunikasi yang jujur, dan menciptakan ruang untuk saling pengertian. Dengan cara tersebut, konflik yang terasa berat pun bisa diredakan dan hubungan keluarga menjadi lebih harmonis.

sama banget kak hhehe, meskipun gak selalu disalahkan. tapi hubunganku dengan ibu sendiri tidak selalu mulus, dari lulus sd sampai kuliah aku mencoba cari cara untuk selalu jauh dengan ibu (sekolah luar kota) dan bener rasa rindu selalu ada drpada dirumah terus2 an dengan ibu