Muda berkelana. Tua bercerita 🍃

4/29 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDulu aku kira berkelana itu cuma soal jalan-jalan ke banyak tempat: air terjun tersembunyi, naik ke Gunung Bawakaraeng, duduk santai di Benteng Rotterdam, atau menikmati senja di sekitar Masjid 99 Kubah di Makassar. Tapi makin ke sini, aku sadar arti berkelana dalam hubungan dan hidup ternyata jauh lebih dalam. "Kamu udah jarang nongkrong", "Kamu kemana sih?" – kalimat-kalimat kayak gitu mulai sering muncul. Awalnya aku ngerasa bersalah, seolah-olah berubah itu salah. Padahal, berkelana dalam hubungan artinya kita juga tumbuh, punya ruang buat diri sendiri, dan pelan-pelan ngerti mana orang yang benar-benar ikut bertahan. Buatku, arti muda berkelana tua bercerita adalah fase ketika kita berani mencoba: jalan ke danau yang jauh dari kota, mampir ke air terjun tanpa nama, atau naik gunung meski nggak semua orang mau ikut. Di saat yang sama, kita juga belajar mengatur jarak dalam hubungan: kapan harus hadir, kapan perlu fokus ke mimpi sendiri. Berkelana dalam hubungan bukan berarti selingkuh atau main-main, tapi mengeksplorasi versi terbaik diri kita. Kita ketemu banyak orang baru, sudut pandang baru, tapi di akhir hari tetap pulang ke orang-orang yang bikin hati tenang. Dari situ kelihatan: siapa yang benar-benar mengerti bahwa kita nggak bisa selamanya nongkrong di tempat yang sama. Sekarang, setiap perjalanan punya makna: foto di air terjun Kaminampiri, kabut di Gunung Bulu Saraung, musik Slank yang temani perjalanan malam, sampai obrolan ringan di tepi danau. Semua itu pelan-pelan jadi cerita yang suatu hari ingin kuceritakan saat tua nanti. Kalau kamu lagi di fase sering ditanya "kamu kemana sih?", mungkin kamu juga lagi berkelana. Nggak apa-apa banget. Selama kamu tau nilai dirimu, jaga batas dalam hubungan, dan nggak lupa pulang ke rumah – ke keluarga, ke iman, ke diri sendiri. Suatu saat, semua lelah dan pertanyaan itu akan berubah jadi cerita yang bikin kamu tersenyum saat mengingat masa muda.