Puasa koq marah2, BATAL ,Lho !!

😄Singkatnya: marah tidak membatalkan puasa secara fikih, tapi bisa mengurangi atau menghilangkan pahala puasa.

⚖️ Status hukumnya

🐣Puasa batal itu karena hal fisik seperti makan, minum, haid, nifas, dll.

🐣Emosi seperti marah tidak termasuk pembatal puasa.

➡️ Jadi tidak perlu qadha hanya karena marah.

🌙 Tapi… secara nilai ibadah?

🐣Puasa itu juga latihan menahan diri. Nabi ﷺ mengajarkan kalau sedang puasa lalu ada yang memancing emosi, ucapkan:

“Aku sedang berpuasa.”

🐣Artinya puasa seharusnya menahan:

• Lisan

• Sikap

• Amarah

🐣Marah bisa membuat pahala puasa berkurang, apalagi kalau sampai:

✔ Memaki

✔ Menghina

✔ Menyakiti orang lain

🌿 Kalau terlanjur marah saat puasa

✔ Diam sejenak

✔ Ambil wudhu

✔ Duduk atau berbaring

✔ Perbanyak istighfar

🐣Itu membantu menenangkan diri dan menjaga pahala puasa tetap utuh.

🐣Kesimpulan:

🟢 Tidak membatalkan puasa

🟡 Tapi bisa mengurangi pahala kalau tidak dikendalikan

NAHH .. SEKARANG SIAPA YANG MAU MARAH?? Tulis dulu di komen , marah soal apa..? Kita diskusikan teman2 … hahahaa setuju?

@Lemon8IRT @Lemon8Cantik @Pemburu Pahala @Lemon8Students

#PengalamanKu #sabarituindah #NyataDanBermanfaat #ibadah

#RamadhanGuide

2/10 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang berpuasa, saya pernah merasa sangat mudah tersulut emosi, terutama saat sedang berpuasa di tengah padatnya aktivitas dan tantangan sehari-hari. Awalnya saya kira marah berarti batal puasa, tapi setelah membaca dan belajar lebih dalam, saya paham bahwa marah tidak membatalkan puasa secara fikih. Namun, marah tetap perlu dikendalikan agar pahala puasa kita tidak berkurang. Salah satu pelajaran paling berharga yang saya dapat adalah dari ajaran Nabi Muhammad ﷺ yang menyarankan untuk mengucapkan "Aku sedang berpuasa" jika ada yang memancing emosi. Kalimat sederhana ini membantu saya mengingat tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengontrol lisan dan amarah. Ketika saya mulai merasa marah saat berpuasa, saya mencoba diam sejenak, mengambil wudhu, atau duduk santai untuk menenangkan diri. Saya juga berusaha banyak beristighfar agar hati lebih tenang. Cara ini sangat membantu menjaga kekhusyukan puasa dan menghindarkan saya dari berkata kasar atau menyakiti orang lain. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa puasa adalah latihan sabar dan pengendalian diri. Marah memang manusiawi, tapi sebagai orang berpuasa, kita diajarkan untuk menahan amarah demi mendapatkan pahala yang maksimal. Bahkan, dengan belajar mengelola emosi dengan baik saat puasa, saya merasa hidup menjadi lebih damai dan hubungan sosial dengan orang lain juga membaik selama Ramadhan. Semoga pengalaman ini bisa jadi inspirasi bagi pembaca yang juga ingin menjaga kualitas ibadah puasa, terutama dalam menghadapi tantangan emosi. Ingatlah selalu tujuan utama puasa adalah meningkatkan keimanan dan kesabaran, bukan hanya menahan lapar dan haus saja.