Seberapa besar manfaatnya buat Masyarakat?
SELAIN lonjakan kekayaan yang fantastis dalam kurun dua tahun memimpin Kota Bekasi. Walikota Bekasi Tri Adhianto juga tercatat paling sering ke luar negeri. Baik untuk urusan ibadah maupun urusan program yang tidak urgent (mendesak) bagi kebutuhan masyarakat Kota Bekasi.
Harta Tri sendiri menurut LHKPN dari sekitar Rp12 miliar pada 2024 menjadi lebih dari Rp15 miliar di 2025. Kenaikan ini memang belum tentu bermasalah, namun dalam konteks intensitas perjalanan luar negeri, publik mulai mengaitkan gaya kepemimpinan dengan sensitivitas terhadap kondisi rakyat
Di tengah tekanan ekonomi global dan tuntutan efisiensi anggaran daerah, sorotan publik mengarah pada langkah-langkah luar negeri yang dilakukan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. Bukan semata soal frekuensi perjalanan, tetapi juga relevansi dan dampaknya bagi masyarakat.
Sejumlah agenda luar negeri yang dilakukan Tri mencuat ke permukaan. Mulai dari umrah saat masih menjabat Plt Wali Kota pada April 2023. Lalu umrah kembali saat sudah terpilih menjadi walikota Bekasi pada November 2025.
Melakukan kunjungan ke Tiongkok pada Desember 2025 terkait proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang justru berujung batal dan dialihkan pengelolaannya oleh Danantara.
Belum selesai di situ, pada April 2026, Tri baru saja kembali melakukan lawatan ke Seongnam (Korea Selatan) dan Izumisano (Jepang) untuk penandatanganan kerja sama sister city. Sebuah program "langitan' yang tidak menyentuh urgensi rakyat Kota Bekasi.
Bahkan, rencana keberangkatan haji pada Mei 2026 turut menambah daftar perjalanan ke luar negeri dalam waktu relatif singkat.
Pertanyaannya: seberapa besar manfaat konkret dari rangkaian perjalanan tersebut?.






























