Hi i'm Tara, ini sederhana tapi menemukan jawaban yang lumayan susah dari pertanyaan : kenapa suka uring2 an dikantor?, mudah lelah, dsb karna energi terkuras untuk hal hal diluar pekerjaan utama. Bukan masalah mampu tidak melakukan hal diluar pekerjaan, of course sebenernya semua kalangan bisa melakukan hal2 administrasi. Tapi terkadang ada yang memanfaatkan staff paling muda untuk disuruh🤷🏻♀️
Awalnya buat kita gak masalah untuk ngebantuin, BUT inget suatu saat jika ada ketidaksesuaian, dan pertolongan disaat km sibuk orang tsb akan berani komplain, padahal ini bukan kesalahan kita.
Harus bisa tegas dan kuat mental🤙🏻 ini salah satu skill diri sendiri untuk mencegah burnout✨
... Baca selengkapnyaJadi staf termuda di kantor itu ada manis-pahitnya. Di satu sisi kita dianggap paling gesit, paling update, tapi di sisi lain sering banget jadi langganan "pesenin ini dong", "mintol print dong", atau dimintain tolong hal-hal yang sebenarnya bukan tugas inti kita. Awalnya aku juga mikir, ah paling cuma sebentar, sekadar bantu. Tapi lama-lama kerasa banget capeknya.
Yang bikin melelahkan itu bukan cuma tugasnya, tapi rasa wajib selalu bilang "iya". Misalnya lagi fokus ngerjain laporan penting, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Eh, tolong pesenin makan ya buat kita semua". Kalau ditolak takut dibilang gak kompak, kalau diterima fokus kerja buyar. Di sinilah aku mulai belajar konsep "tetap utamakan prioritas" biar gak burnout.
Sekarang tiap ada yang minta tolong, aku biasain cek dulu: kerjaan inti aku lagi di tahap mana? Deadline masih jauh atau udah mepet? Kalau lagi sempat, aku bilang, "Oke, aku pesenin ya, tapi abis ini aku lanjut kerjaanku dulu". Kalau lagi kejar target, aku jawab jujur, "Lagi ngejar deadline nih, bisa minta tolong yang lain dulu gak? Kalau udah kelar, kalau masih perlu, baru aku bantu". Ternyata cara kayak gitu cukup efektif dan tetap sopan.
Untuk permintaan kecil seperti "mintol print dong", dulu aku langsung berdiri dan kerjain. Sekarang aku lebih sering kasih opsi: "Bisa kok, tapi nanti ya setelah aku selesai input data yang ini" atau kalau benar-benar gak bisa, aku balikin pelan, "Mesinnya di sana kok, gampang tinggal pencet ini-ini" sambil jelasin. Jadi bukan menolak mentah-mentah, tapi mengarahkan supaya semua orang belajar mandiri.
Hal lain yang ngebantu adalah bikin batasan tak terlihat. Contohnya, kalau jam kerja udah padat, aku sengaja pakai headset (walaupun kadang tanpa musik) biar orang tahu aku lagi fokus. Atau aku tulis to-do list di meja, jadi kalau ada yang minta bantuan aku bisa nunjukin, "Kerjaanku hari ini udah numpuk segini, takutnya kalau aku tinggal malah kelar lebih lama". Biasanya kalau orang lihat langsung, mereka lebih mengerti.
Poin penting yang aku pelajarin: jadi staf paling muda bukan berarti otomatis "asisten umum". Kita tetap berhak menjaga energi dan fokus di pekerjaan utama. Bantu orang itu bagus, tapi jangan sampai grafik produktivitas kita sendiri ikut menurun cuma karena semua permintaan non-inti disikat. Pelan-pelan belajar tegas, latihan bilang tidak dengan cara yang halus, dan selalu ingat, prioritas pertama adalah jobdesc kita sendiri. Dari situ, rasa uring-uringan dan mudah lelah di kantor pelan-pelan berkurang, karena energi gak lagi terkuras untuk hal yang sebenarnya bisa di-manage atau dialihkan.