SELAMA INI AKU SALAHA...AKU KIRA ANAK BELAJAR HANYA SAAT DUDUK SAJA
Pernah merasa gak, Bun?
Kalau anak sedang bermain balok, pura-pura masak, atau sibuk membolak-balik buku...
rasanya mereka cuma sedang bermain?
Aku juga pernah berpikir begitu.
Padahal setelah belajar lebih banyak tentang tumbuh kembang anak, aku baru paham bahwa bermain bukan jeda dari belajar.
Bermain adalah cara anak belajar. 🤍
Saat menyusun balok, mereka belajar berpikir dan memecahkan masalah.
Saat bermain peran, mereka belajar bahasa dan imajinasi.
Saat membantu kita di rumah, mereka belajar tanggung jawab dan kemandirian.
Bahkan saat bertanya "kenapa?" berkali-kali, mereka sedang belajar memahami dunia di sekitarnya.
Menurut para ahli perkembangan anak, bermain adalah aktivitas utama yang membantu perkembangan kognitif, sosial, bahasa, dan motorik anak di usia dini.
Jadi mungkin, yang perlu kita lakukan bukan selalu menambah aktivitas belajar yang rumit.
Tapi lebih sering hadir dan mendampingi proses belajar yang sudah terjadi setiap hari.
Karena ternyata...
anak tidak harus selalu duduk diam untuk belajar.
Mereka bisa belajar saat bermain, bergerak, mencoba, bertanya, bahkan saat melakukan hal-hal sederhana di rumah. 🌷
Sebagai ibu dari dua toddler, aku juga masih terus belajar melihat proses belajar dari sudut pandang anak.
Kalau di rumah, aktivitas apa yang paling sering membuat anakmu belajar hal baru tanpa disadari, Bun?
Yuk cerita di kolom komentar 🤍
Intan Fitriani | Mom Educator
#RealitaDewasa #BaruTau #TipsLemon8 #IRTPunyaCerita #stimulasianak
Sebagai orang tua yang dulu sering menganggap belajar harus dilakukan secara formal dan dalam posisi duduk tenang, saya juga sempat mengalami perubahan paradigma setelah memahami bagaimana pentingnya bermain dalam proses belajar anak. Biasanya saya melihat anak saya yang sedang asyik bermain balok atau pura-pura memasak hanya sebagai waktu bersenang-senang tanpa tujuan belajar tertentu. Namun, lama-kelamaan saya menyadari bahwa kegiatan itu justru sangat kaya dengan proses belajar yang terjadi secara alami. Misalnya saat anak saya menyusun balok-balok, dia tidak hanya belajar tentang bentuk dan warna, tetapi juga belajar memecahkan masalah dan berpikir logis untuk membuat struktur supaya tidak mudah roboh. Ketika dia bermain peran, seperti pura-pura membaca buku atau menjadi dokter-dokteran, saya lihat kemampuan berbahasanya bertambah dan imajinasinya berkembang pesat. Aktivitas sederhana membantu mengambilkan baju atau menuang air juga menjadi contoh bagaimana anak belajar tanggung jawab dan kemandirian. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa anak-anak sebenarnya belajar setiap saat, tidak harus dalam situasi belajar formal seperti duduk di kursi dengan buku di depan mereka. Otak anak bekerja keras bahkan saat mereka sedang bertanya berulang kali tentang sesuatu yang mereka penasaran, misalnya bertanya "kenapa?" lagi dan lagi. Ini menandakan mereka berusaha memahami dunia di sekitar mereka lewat aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Oleh karena itu, saya mulai lebih fokus pada mendampingi dan memberikan kesempatan untuk eksplorasi daripada menuntut mereka duduk diam dan menyelesaikan worksheet atau latihan belajar yang monoton. Henderson, seorang ahli pendidikan anak, juga menyatakan bahwa bermain adalah aktivitas utama yang mendukung perkembangan berbagai aspek anak: kognitif, sosial, bahasa, dan motorik. Jadi, bagi para bunda dan ayah yang mungkin masih merasa anak harus belajar dengan cara duduk diam dan menyimak, cobalah ubah sudut pandang dengan melihat dunia anak sebagai ruang eksplorasi tanpa batas. Dampingi mereka dengan penuh kesabaran dan berikan ruang untuk mencoba serta bereksplorasi. Kebahagiaan dan perkembangan optimal anak justru akan muncul dari kesempatan mereka belajar melalui bermain setiap hari.




