#KeseharianKu sebagai IRT kadang suka ada Dar Der Dor nya 😆
hari ini, #JujurAja aku kaget banget.. baru pertama kali dapet undangan model gini.. cuma ada selembar kertas tanpa nama org yg diundang, tapi yg bikin unik kok ada kopinya 😆 ternyata ini termasuk tradisi di tempat yg punya hajat.. undangannya model gitu.. 🤗 menurutku sebenernya sah-sah aja sih undangan mau model apapun juga, yg penting pesannya nyampe.. 🥰
... Baca selengkapnyaJujur, pas pertama kali pegang undangan kopi khitanan ini aku sempet mikir, “Loh, gini doang? Bisa masuk kategori undangan atau brosur belanja nih.” Tapi makin dipikir, malah jadi ngerasa unik dan bikin senyum-senyum sendiri.
Biasanya kan undangan khitanan itu ada desain rame, motif batik, gambar masjid, atau minimal ada nama yang diundang. Di sini cuma selembar kertas biasa, tulisannya langsung ke inti acara, tanggal 4–5 Oktober 2025, tanpa nama tamu, tanpa hiasan heboh. Tapi ternyata dibalik kertasnya diselipin sachet kopi instan TOP Coffee Gula Aren, terus dibungkus plastik. Simple banget, tapi ada effort-nya.
Kalau dipikir dari sudut pandang buibu IRT, konsep undangan kopi gini tuh ada plus minusnya. Plusnya:
- Hemat biaya, apalagi kalau yang diundang banyak. Kertas polos + plastik + kopi sachet masih lebih murah daripada cetak undangan full color.
- Praktis buat dibagiin. Tinggal titip ke tetangga atau saudara, nggak perlu tulis nama satu-satu.
- Ada “oleh-oleh” kecil: kopinya bisa langsung diseduh sambil baca undangannya. Jadi undangannya bukan cuma dibaca sekali lalu lupa, tapi ada benda yang kepake juga.
Minusnya menurutku:
- Karena nggak ada nama, kesannya kayak undangan umum. Ada orang yang mungkin ngerasa kurang dihargai karena undangan terasa massal.
- Buat yang nggak biasa dengan tradisi ini, bisa salah paham, dikira bukan undangan resmi, cuma selebaran.
Tapi setelah aku tanya-tanya, ternyata model undangan khitan kopi begini sudah jadi tradisi di beberapa daerah. Ada yang pakai kopi kraton, ada juga yang pakai merek lain. Filosofinya, kopi itu identik dengan silaturahmi—ngobrol bareng, ngopi bareng, kumpul bareng. Jadi harapannya, tamu yang diundang datang sambil bawa doa baik, terus hubungan silaturahmi terus hangat seperti kopi.
Kalau soal khitanin anak, biasanya keluarga sudah siapin acara dari jauh-jauh hari. Ada yang bikin pengajian, ada yang sederhana cuma makan bersama. Undangan kopi ini jadi cara mereka ngasih tahu tetangga dengan cara yang low budget tapi tetap ada sentuhan personal. Menurutku, selama pesannya nyampe—tanggal jelas, alamat jelas, acaranya apa—model undangan kayak gini sah-sah aja.
Aku pribadi sih lebih ke #Yay, soalnya kreatif dan nggak buang-buang uang di desain yang ujung-ujungnya cuma numpuk di laci. Tapi balik lagi ke selera dan kebiasaan di tiap daerah. Ada yang mungkin tetap lebih suka undangan klasik yang rapi dan ada nama jelas.
Kalian gimana? Di kampung kalian pernah nemu undangan kopi khitanan juga nggak? Atau malah pernah lihat versi lain, misalnya undangan pakai snack, teh, atau kalender? Seru juga kalau tradisi kayak gini dikumpulin, siapa tahu bisa jadi inspirasi buat yang mau bikin acara khitanan anak nanti tapi tetap pengen hemat dan berkesan.
Yay, di Riau kek gitu.
Aku pernah dapet. Dapat nasi+lauknya tapi di packaging nasi ada undangan khitan. Surprise banget karna pertama dapat begituan😂😂 Sampe nanya paksu kalo di Riau apa ngasih undangan harus pake nasi bungkus ya? Kata paksu sebagian begitu😂😂😂👍👍 Kan aku jadi enak dapat nasi bungkus nya
Yay...gak papa sih kalo aku , drpd pake kertas undangan ujungnya jadi sampah jg , hemat budget jg 😂