5/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku cuma tahu "Faina ma'al usri yusra" sebagai kata-kata motivasi islami yang sering lewat di timeline. Tapi baru kerasa dalam banget ketika aku sendiri lagi ada di fase hidup yang sumpek. Rasanya kayak tiap hari cuma bisa bilang, "Streak for today" ke diri sendiri: yang penting hari ini tetap jalan, tetap berusaha. Kalimat lengkapnya dari Al-Qur'an itu mengingatkan kalau bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bukan setelah, tapi bersama. Ini bikin cara pandangku pelan-pelan berubah. Awalnya aku mikir: kalau lagi susah berarti Allah jauh. Tapi sekarang aku justru merasa, di momen paling berat sekalipun, selalu ada titik-titik terang kecil yang Allah sisipkan. Misalnya, waktu lagi pusing soal pekerjaan atau masalah pribadi, aku mulai coba latihan melihat "yusra" (kemudahan) di tengah "usri" (kesulitan). Kadang bentuknya sesederhana: masih punya teman curhat, masih ada keluarga yang peduli, atau dikasih kesempatan belajar dari kesalahan. Kelihatannya sepele, tapi kalau dihitung satu-satu, ternyata banyak. Aku juga jadi lebih hati-hati dengan ekspektasi. Aku nggak lagi berdoa supaya hidupku mudah tanpa masalah. Justru aku belajar menerima kalau masalah itu bagian dari hidup, tapi aku minta supaya Allah kuatkan hati dan bukakan jalan keluar. Allah tidak menjanjikan hidupmu mudah, tapi ingat: "Faina ma'al usri yusra" – bersama kesulitan, ada kemudahan. Bagi aku, ini bukan sekadar quote, tapi pegangan. Praktiknya dalam keseharian, aku bikin kebiasaan kecil. Misalnya, setiap kali ada hal yang bikin sesak, aku ambil jeda sebentar, tarik napas, baca istighfar, lalu ingatkan diri sendiri dengan kalimat ini. Kadang aku tulis di jurnal atau tempel sebagai notes di HP, biar kebaca terus. Efeknya, aku jadi nggak gampang kebawa panik. Masalahnya masih ada, tapi reaksiku pelan-pelan lebih tenang. Yang paling kerasa, kalimat "Faina ma'al usri yusra" bikin aku lebih optimis tapi tetap realistis. Optimis karena yakin ada kemudahan yang Allah siapkan, realistis karena sadar usaha tetap harus jalan. Jadi kalau kamu lagi di fase berat, mungkin kamu bisa coba lakukan hal yang sama: jadikan kalimat ini sebagai pengingat personal, bukan cuma slogan. Pelan-pelan, kamu mungkin akan mulai melihat kemudahan-kemudahan kecil yang sebelumnya luput dari syukur.