... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali lihat langsung Gunung Slamet, rasanya campur aduk antara kagum dan agak ngeri. Dari jauh aja udah kelihatan gagah banget, puncaknya sering ketutup awan seperti di foto yang aku pakai di postingan ini. Teks kecil “tetep selamet gunung slamet” itu sebenarnya doa dan harapan supaya semua yang naik dan yang menjaga gunung ini selalu dilindungi.
Buat aku, istilah penjaga gunung slamet itu luas banget. Ada penjaga yang kelihatan, kayak petugas basecamp, warga lokal, dan para relawan yang sering bantu ngarahin jalur. Mereka ini biasanya tahu banget karakter gunung, cuaca, sampai titik-titik rawan. Setiap kali main ke daerah sekitar Slamet, aku selalu berusaha ngobrol sebentar sama warga. Dari situ banyak dapat info penting: jam mulai naik yang ideal, kondisi jalur terbaru, sampai pantangan kecil yang sebaiknya dihargai.
Di sisi lain, banyak juga yang percaya ada penjaga yang nggak kelihatan. Aku pribadi menganggapnya sebagai bentuk rasa hormat ke alam. Jadi sebelum naik gunung (Slamet atau gunung lain), aku biasakan untuk jaga sikap: nggak sombong, nggak teriak-teriak, nggak buang sampah sembarangan, dan nggak sembarangan ngomong. Hal-hal kecil kayak gini sering diremehin, padahal dari pengalaman dan cerita teman-teman pendaki, sikap kita di gunung itu berpengaruh banget ke kelancaran perjalanan.
Kalau suatu hari aku berkesempatan benar-benar mendaki Gunung Slamet, beberapa hal yang pasti aku lakukan: cek kondisi fisik dulu, cari info jalur resmi dan basecamp tepercaya, dan selalu pamit ke orang rumah. Di basecamp, aku bakal tanya detail soal durasi pendakian, sumber air, dan titik camp yang aman. Setiap langkah di jalur pendakian, selain menikmati pemandangan, aku pengin selalu ingat pesan di foto: tetep selamet gunung slamet. Artinya, bukan cuma pengin pulang selamat, tapi juga pengin ikut menjaga gunung ini tetap selamat dari sampah dan ulah kita sendiri.
Buat yang juga tertarik sama Gunung Slamet, kamu bisa mulai dari riset kecil-kecilan seperti aku: lihat foto-foto, baca cerita pendaki lain, dan belajar dari pengalaman mereka. Dari situ kamu bakal mulai ngerti kenapa banyak orang begitu menghormati penjaga gunung slamet, baik yang tampak maupun yang tidak, dan kenapa doa kecil kayak “tetep selamet gunung slamet” itu terasa hangat banget buat diucapkan sebelum memulai perjalanan.