BAB 2
"Sayang, suara siapa itu?"
Da rahku semakin mendidih melihat Mas Rama muncul hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Rambutnya basah, air menetes di atas da da bidangnya.
Begitu matanya menangkap sosokku di ambang pintu, wajah Mas Rama langsung pucat.
"Rindi...," gumamnya lirih. Tangannya refleks meraih handuk di pinggang yang nyaris lepas. Mungkin dia terburu-buru memakainya tadi.
"Mas, kamu udah selesai?" Wanita ha mil itu berbalik dengan santai, seolah dia yang dipanggil oleh suamiku. Dia melirikku dengan tatapan ta jam. "Ini ada tamu, Mas. Dia mengaku-ngaku sebagai Rindi, istri kamu. Padahal aku di sini loh Mas."
Mas Rama tampak seperti ma yat hidup—wajahnya putih, matanya melebar penuh kepanikan.
Ia melangkah ke arahku, melewati wanita itu begitu saja.
"Rin, aku sudah bilang jangan datang. Kamu kenapa ke sini?"
Lucu.
Setelah tertang kap basah, dia menyalahkanku.
Aku mundur selangkah, menghindari tu buh atletis yang sejujurnya sangat aku rindukan.
Menyadari reaksiku, Mas Rama menurunkan tangannya. "Kamu tunggu di sini. Aku pakai ba ju dulu."
Aku tidak menjawab. Bahkan untuk mengangguk pun tidak.
Ia berbalik, mening galkanku yang berdiri kaku seperti patung tak bernyawa.
Di lantai, surat mutasi itu lecek terin jak sepatuku, persis seperti hatiku yan sudah tak berbentuk.
"Ikut aku. Pakai baju yang benar," katanya tegas pada wanita itu.
"Tapi, Mas—"
"Sudah. Cepat."
Tangannya menggenggam lengan wanita itu.
Cara dia menyent uhnya berbeda. Kuat, tapi juga penuh perlindungan. Ada ketergesaan, tapi ada kehati-hatian.
Aku tersenyum pahit. Bahkan mereka masuk ke ka mar yang sama.
Tak butuh waktu lama, Mas Rama kembali dengan pakaian lengkap, seolah ingin menutupi dosa yang baru saja dia perbuat terhadapku.
"Rin, aku kangen banget sama kamu."
Tanpa aba-aba, Mas Rama mengham bur ke pelu kanku, menci umi wajahku dengan br utal—persis seperti bayanganku sebelum pintu ini terbuka.
Tapi sekarang…
Aku hanya diam.
Kaku.
Kosong.
Aku seperti bongkahan kayu yang baru dite bas dari akarnya.
Hatiku menjerit, ingin menolak. Tapi tu buhku justru merespons. Hangatnya masih sama. Nyamannya masih sama. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah.
Aku benci perasaan ini. Ji jik dan rindu bercampur jadi satu.
Dari balik tengkuk Mas Rama, aku melihat wanita itu melipat tangan di da da. Ia menatapku seolah-olah aku ma ling yang mengambil barang miliknya.
"Sini, duduk dulu."
Mas Rama menggandengku ke sofa bludru yang empuk.
Mataku menyapu seisi ruangan. Isinya tampak terlalu mewah untuk rumah sederhana seperti ini.
Dan aku tahu persis, semua itu hasil jerih payahku. Aku yang membelikannya. Agar suamiku hidup nyaman di rantauan.
Ternyata dia sangat nyaman, terlalu nyaman hingga berani membawa wa nita lain ke dalam rumah yang aku bi ayai.
"Kenapa kamu nggak bilang mau ke sini?" tanyanya lembut, lebih lembut daripada tadi. "Kalau aku tahu kamu datang, aku kan bisa—"
"Kamu bisa apa?" potongku ta jam. "Menyembunyikan wanita itu dulu?"
Aku melirik sinis ke arahnya. Wanita itu masih berdiri di sana, seperti penjaga yang siap mempertahankan wilayahnya.
"Rin, kamu ke kamar dulu, ya?"
"Aku di sini, Mas. Kamu lupa?" jawabku dingin.
Mas Rama mengusap wajahnya kasar, jelas frustrasi dengan permainannya sendiri.
"Maksudku Ayu. Kamu ke ka mar dulu. Aku mau bicara dengan Rindi."
Ia menunduk sejenak, lalu berkata pelan—
"Dia… muridku."
-TBC-
Baca selengkapnya di KBM app
Judul : Wanita Hamil di kontrakan suamiku
Penulis : Denaira




















