"Aku Mayang. Aku dan Mas Andre saling mencintai."
Aku tersenyum tipis mendengar pengakuan wanita yang berdiri di depan pintu rumahku yang mengenakan gaun merah menya-la yang menyilaukan pandangan.
Beberapa saat sebelumnya, saat aku tengah mencuci piring dengan tenang, terdengar ketukan ke-ras di pintu. Begitu kubuka, wanita bernama Mayang ini sudah berdiri dengan tangan terlipat di da-da.
"Kamu pasti ngira aku bercanda, kan?" katanya sambil melepas kacamata hitam berbingkai loreng yang dikenakannya.
"Asal kamu tahu, aku dan Mas Andre sudah bersama selama tiga bulan," lanjutnya dengan nada penuh kebanggaan.
Aku menggeleng pelan, mengembuskan na-pas panjang. Entah dia bercanda atau tidak, aku tidak tertarik.
Justru aku merasa heran.
Suamiku? Mas Andre punya se-ling-ku-han?
Apa wanita di hadapanku ini benar-benar mengenal kondisi suamiku?
Tahu kelemahannya?
Apa dia tahu bahwa suamiku bahkan tidak mampu bertahan lama di atas ran-ja-ng?
Dan jika tahu, apakah itu bukan masalah baginya?
Selama empat tahun lebih menikah, aku saja me-men-dam ketidakpuasan itu seorang diri demi menjaga perasaan Mas Andre.
"Kamu yakin?" tanyaku, sekadar memastikan.
"Yakin, dong! Kami saling mencintai, dan sebentar lagi akan menikah," jawabnya mantap.
Aku menahan tawa. Aku harus tetap tenang. Situasi ini terasa begitu mirip dengan drama yang sering kutonton di televis. Hanya saja, kali ini aku yang menjadi tokoh utamanya.
Sekarang aku bingung harus bereaksi seperti apa?
Apa aku harus menangis meraung-raung sebagai istri yang terzalimi? Memohon agar ia menjauh dari suamiku?
Atau meluapkan amarah, men-jam-bak rambut pirangnya, dan me-ma-kinya habis-habisan?
Tunggu. Tahan dulu.
Aku harus tetap tenang. Jika benar Mas Andre ber-se-ling-kuh, justru ini bisa menjadi alasan bagiku untuk mengajukan ce-rai. Aku sudah mulai bosan berpura-pura puas dengan permainan Mas Andre.
Tanpa banyak bicara, aku merogoh saku ce-la-na, mengambil ponsel, lalu memotret wajah Mayang.
"Eh! Apa-apaan ini?!" te-ri-ak-nya pa-nik sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, benar-benar seperti pe-la-kor yang tertangkap basah.
"Ngapain kamu foto-foto?! Hapus nggak!" te-ri-ak-nya lagi.
Ia mencoba me-re-but ponsel dari tanganku, tetapi aku lebih cepat menyimpannya kembali ke saku belakang. Tanpa menunggu, aku segera menutup pintu, membiarkannya ber-te-ri-ak sambil me-mu-kul daun pintu.
Suara te-ri-ak-an-nya yang meminta pintu dibuka masih bisa aku dengar, namun tentu saja aku abaikan.
Tidak lama suasana berubah hening. Aku mengintip dari balik gorden. Mayang sudah pergi, wajahnya tampak ke-sal.
Syukurin.
Aku duduk di sofa ruang tamu, membuka galeri ponsel, lalu mengirimkan foto tadi kepada Mas Andre. Jemariku mengetuk pelan di atas pa-ha, menunggu balasannya.
Ting!
Notifikasi pesan masuk. Aku segera membukanya.
Jadi kamu sudah ketemu Mayang?
Iya.
Bagus.
Apa benar kalian saling mencintai dan akan segera menikah?
Benar. Aku mencintai Mayang. Dia lebih mampu memuaskanku daripada kamu.
Aku tak mampu menahan diri lagi. Tawa me-le-dak begitu saja.
Lebih puas?
Apa Mas Andre tidak salah ucap?
Apa menurutnya Mayang bisa menghidupkan kembali sesuatu yang bahkan belum dua menit sudah ‘tertidur’?
Kalau benar, hebat sekali wanita itu.
Aku me-ngu-sap sudut mataku yang mulai basah karena terlalu banyak tertawa.
Kami akan segera menikah. Kamu harus terima dan perlakukan Mayang dengan baik. Kalau tidak, silahkan ajukan ce-ra-i.
Mataku mem-be-la-lak membaca pesan lanjutan dari Mas Andre.
Enak saja!
Aku saja belum mampu ia puaskan, kini ia ingin menambah istri?
Bersambung...
Selengkapnya hanya di aplikasi KBM.
Judul : Pura-pura Mengkhianatiku
Penulis : hayati_rakatanur




























