Suku Juru
SUKU JURU KETURUNAN PANGLIMA DARI KESULTANAN JOHOR
Benarkah masyarakat Suku Juru di Belitung memiliki hubungan dengan Kesultanan Johor?
Menurut catatan Ecoma Verstege dalam Bijzonderheden over Sekah-Bevolking van Billiton (1877), terdapat tradisi lisan yang menyebut bahwa nenek moyang Suku Juru dan Sekah berasal dari seorang tokoh bernama Juhar (Djoehar), seorang panglima atau jawara dari Sultan Johor di kawasan Malaka.
Dikisahkan, setelah melakukan pelanggaran terhadap sultannya, Juhar bersama para pengikutnya meninggalkan Johor. Mereka mengarungi lautan Nusantara, singgah di wilayah Lingga, Siak, Kepulauan Riau, Singapura, hingga Bangka, sebelum akhirnya sebagian menetap di Kepulauan Belitung.
Catatan lain dari P.H. van Diest (1875) menyebut bahwa Suku Juru merupakan kelompok Orang Laut yang lebih dahulu memeluk Islam, mahir berbahasa Melayu, serta hidup menetap di kawasan pesisir Belitung.
Hingga kini, keturunan Suku Juru masih dapat dijumpai di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.
Masyarakatnya turut menjaga budaya maritim sekaligus mengembangkan kawasan wisata Hutan Kemasyarakatan (HKm) Gusong Bugis, sebagai warisan yang terus hidup.
Perlu dipahami, kisah asal-usul ini merupakan tradisi lisan yang dicatat oleh penulis kolonial, sehingga menjadi bagian dari sejarah lokal yang diwariskan turun-temurun, bukan kesimpulan sejarah yang telah dibuktikan secara pasti.
Bagaimana menurutmu? Apakah tradisi lisan seperti ini penting untuk terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Belitung?
Kredit:
Sumber utama: Ecoma Verstege (1877), Bijzonderheden over Sekah-Bevolking van Billiton
Referensi pendukung: P.H. van Diest (1875), Bijdrage tot de Geschiedenis van Billiton
Referensi artikel: PetaBelitung.com
Visual: AI Generated 3D Clay Style
#SukuJuru #Belitung #SejarahBelitung #BudayaMelayu #Indonesia
Pengalaman saya mengunjungi Belitung dan bertemu langsung dengan keturunan Suku Juru memberikan wawasan baru mengenai pentingnya pelestarian warisan budaya lokal. Suku Juru yang menetap di Desa Juru Seberang ini bukan hanya sosok yang menjaga tradisi nenek moyang mereka, melainkan juga aktif mengembangkan potensi wisata berwawasan budaya dan lingkungan. Mereka menjaga kearifan lokal dengan memanfaatkan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Gusong Bugis sebagai kawasan wisata yang ramah lingkungan sekaligus sebagai bentuk penghargaan terhadap alam dan budaya maritim mereka. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi lisan yang berasal dari perjalanan Juhar, seorang panglima dari Kesultanan Johor, tetap hidup dan relevan hingga kini. Selain nilai sejarah yang melekat, cerita perjalanan Suku Juru yang bermula dari Johor hingga menetap di Belitung juga memberikan gambaran tentang dinamika migrasi dan interaksi budaya di Nusantara. Kisah ini memicu refleksi saya tentang pentingnya mendokumentasikan tradisi lisan dan sejarah lokal agar generasi muda dapat mengenal akar budaya mereka dengan baik. Menurut saya, pelestarian cerita seperti ini bukan hanya memperkuat identitas budaya Belitung, tetapi juga membuka peluang edukasi dan pariwisata berbasis budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini juga menjadi contoh bagaimana komunitas adat dan warisan sejarah tetap dapat berperan aktif dalam pembangunan daerah modern tanpa kehilangan jati diri. Oleh karena itu, saya sangat mendukung upaya menjaga dan menghidupkan tradisi lisan Suku Juru sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dengan dukungan masyarakat luas dan pemerintah, kisah yang dicatat oleh penulis kolonial tempo dulu ini dapat tetap lestari dan memberikan inspirasi bagi banyak pihak.












































