Salah sendiri...
Hi sobat Lemoners
Di #fypanalysis kali ini aku mau ngebahas sedikit tentang victim blaming. #CurcolanHati #CeweBanget
Pas pertama kali denger istilah "victim blaming", aku baru ngeh kalau ternyata selama ini banyak banget kalimat sehari-hari yang termasuk ke situ. Contohnya: "Salah sendiri pulang malam", "Makanya jangan pakai baju gitu", atau "Kalau kamu nggak minum, pasti aman." Dulu aku anggap itu cuma nasihat, tapi makin ke sini kerasa banget kalau kalimat kayak gitu malah nyakitin korban. Buat yang masih bingung, victim blaming adalah sikap menyalahkan korban atas kejadian buruk yang dia alami. Jadi fokusnya bukan ke pelaku dan sistem yang bermasalah, tapi seolah-olah korban yang harusnya lebih hati-hati, lebih sopan, lebih ini-itu. Orang yang selalu disalahkan jadinya merasa dirinya sumber masalah, padahal dia yang disakiti. Dari yang aku baca, dalam psikologi ada yang namanya just world theory, yaitu keyakinan kalau dunia ini "adil" dan orang baik pasti dapat hal baik. Karena kepercayaan ini, saat ada kejahatan, sebagian orang lebih nyaman mikir: "Pasti ada salahnya korban" daripada menerima kenyataan bahwa hal buruk bisa terjadi ke siapa aja, kapan aja. Di satu sisi, ini bikin mereka merasa aman, tapi di sisi lain, menyakiti korban. Kalau di masyarakat kita, victim blaming juga nyambung banget sama gejala sosial kejahatan dan purity culture. Perilaku kejahatan akhirnya nggak dilihat sebagai masalah pelaku dan sistem (misalnya kurangnya keamanan, hukum yang lemah), tapi ditarik ke moralitas korban: cara berpakaian, cara bergaul, jam keluar rumah, status perempuan, dan sebagainya. Jadinya, pelaku seperti tertutupi, sementara korban yang disorot habis-habisan. Aku sendiri pernah ada di posisi serba disalahkan. Setiap curhat, responsnya: "Harusnya kamu…" atau "Lain kali jangan…" Lama-lama aku percaya kalau aku memang sumber masalah. Ini bikin aku takut cerita, nggak mau cari bantuan, bahkan ngeraguin kewarasanku sendiri. Di titik itu, aku baru sadar kalau orang yang tidak mau disalahkan itu bukan selalu berarti nggak mau introspeksi; kadang mereka cuma capek jadi kambing hitam terus. Pelan-pelan aku belajar beberapa hal: pertama, kejadian buruk yang menimpaku bukan pembenaran buat orang lain menyalahkanku. Kedua, menjaga diri itu penting, tapi bukan berarti kalau kita sudah berusaha hati-hati lalu tetap kena, itu salah kita. Ketiga, kita boleh banget memilih lingkungan yang aman, teman yang mau dengerin tanpa nge-judge. Kalau kamu lagi menghadapi victim blaming, mungkin bisa mulai dari: - Cari satu orang yang kamu percaya buat dengerin ceritamu tanpa menyela. - Validasi perasaan sendiri, misalnya lewat journaling atau nulis curhat kayak di Lemon8. - Pelan-pelan edukasi orang terdekat tentang victim blaming, kalau kamu punya energi. Intinya, yang perlu diperbaiki itu sistem dan perilaku pelaku, bukan menyuruh korban berubah habis-habisan hanya supaya kejahatan terlihat seolah-olah bisa dicegah oleh korban sendiri.







Di Indo emang sering nya korban yang di salahin padahal gak ngapa-ngapain juga kalau ketemu yang jahat ya pasti kejadian