Aku baru tau ada operasi bentuk vulva karena gak sengaja nonton video essay di youtube tentang Labiaplasty. Makanya di #fypanalysis kali ini aku mau share sedikit soal operasi aneh yang satu ini #CeweBanget
2025/8/24 Diedit ke
... Baca selengkapnyaPas nonton video tentang labiaplasty itu, aku baru ngeh kalau banyak banget cewek yang insecure sama vulvanya sendiri. Bukan cuma soal ‘rapi’ atau ‘nggak rapi’, tapi sampai mikir: ini normal nggak ya? Vulvanya kok beda sama di film atau gambar yang sering lewat di internet? Padahal setiap vulva itu unik, bentuk, warna, bahkan lipatan labia bisa beda-beda.
Banyak juga yang nyampur aduk antara operasi vulva, operasi vagina, sampai urusan keperawanan. Misalnya, ada yang takut dibilang udah ‘nggak perawan’ cuma karena bentuk vulva atau labia berubah. Padahal keperawanan itu bukan hal yang bisa dilihat dari bentuk vagina ataupun vulvanya.
Soal hymen test, jujur ini topik yang bikin ngeri. Masih ada yang percaya kalau selaput dara (hymen) harus ‘utuh’ untuk dianggap perawan. Padahal, secara medis, hymen itu bentuk dan ketebalannya beda-beda, dan bisa meregang atau robek karena banyak hal: olahraga, naik sepeda, pakai tampon, atau bahkan tanpa sebab jelas. Jadi tes keperawanan lewat hymen test itu sebenarnya nggak akurat dan banyak dokter yang udah menganggapnya nggak etis.
Terus gimana dengan “ciri tidak perawan lagi”? Di internet banyak banget artikel yang klaim bisa bedain “vagina perawan” dan “nggak perawan” dari gambarnya atau ciri-ciri fisik. Dari apa yang aku baca, itu lebih ke mitos dan budaya patriarki, bukan sains. Nggak ada ciri fisik pasti yang bisa nunjukin seseorang ‘masih suci’ atau nggak. Bahkan dalam beberapa pandangan agama pun, keperawanan lebih ke soal perilaku dan komitmen, bukan anatomi yang bisa difoto.
Operasi vaginoplasty atau operasi vagina kadang dipromosikan sebagai cara ‘mengembalikan keperawanan’, misalnya dengan “penjahitan” supaya terasa lebih sempit. Dari sisi psikologis dan kesehatan, ini rumit banget. Ada yang merasa lebih pede setelah operasi, tapi ada juga risiko: rasa sakit, infeksi, bekas luka, sampai gangguan sensasi. Kalau motivasinya cuma karena tekanan pasangan atau standar kecantikan sempit, menurutku perlu dipikir ulang matang-matang.
Kalau kamu lagi kepikiran soal vulvanya ‘jelek’, ‘nggak normal’, atau takut dibilang nggak perawan: pelan-pelan coba edukasi diri dari sumber medis yang bisa dipercaya. Lihat juga ilustrasi atau foto edukatif tentang variasi bentuk vulva, biar kebuka bahwa yang disebut ‘normal’ itu luas banget. Kalau masih cemas, konsultasi ke dokter obgyn yang pro-edukasi dan nggak menghakimi jauh lebih aman dibanding googling gambar yang seringnya bikin tambah insecure.
Buat aku pribadi, makin banyak baca soal labiaplasty dan operasi vagina, makin sadar kalau tubuh perempuan sering banget dijadikan objek standar yang mustahil: harus putih, harus sempit, harus mulus, harus kayak di pornografi. Padahal kita berhak ngerasa nyaman dulu dengan tubuh sendiri sebelum memutuskan apa-apa. Kalau pun ada yang memilih operasi, semoga itu bener-bener karena keputusan diri sendiri yang sudah paham risiko, bukan cuma takut dicap ‘nggak suci’ atau ‘vulvanya jelek’ berdasarkan mitos yang sebenarnya bisa kita bongkar bareng-bareng.