Jadi cantik memang banyak untungnya, tapi banyak juga ruginya. #CeweBanget
Suka dengan konten seperti ini? Cek konten sejenis pakai #fypanalysis
2025/8/25 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSebagai cewek yang sering dibilang punya wajah manis, aku baru ngeh kalau istilah "pretty privilege" atau "beauty privilege is real" itu beneran kejadian di kehidupan sehari-hari. Awalnya aku kira cuma meme di internet, tapi kalau diinget-inget, banyak banget momen yang bikin aku mikir: "Oh, ini toh keuntungan punya wajah manis… tapi kok rasanya campur aduk ya?"
Dari sisi positif dulu. Hal paling kerasa tuh di hal-hal kecil: antrian kadang jadi lebih dipercepat, orang lebih ramah, bahkan saat nanya sesuatu di tempat umum, responnya lebih lembut. Di dunia kerja juga kadang berasa, misalnya pas interview, aku pernah ngerasa dipandang "lebih cocok" buat posisi frontliner hanya karena dinilai tampilannya menarik. Di satu sisi, ini bisa jadi peluang karier, terutama di pekerjaan yang ketemu banyak orang.
Tapi di balik itu, ada sisi negatif yang jarang dibahas. Kadang orang langsung nge-judge, "Ah, kamu mah enak, apa-apa dimudahin karena cantik," seolah semua usaha nggak dihitung. Ada juga yang nganggep kita cuma mengandalkan wajah, bukan kemampuan. Itu bikin insecure, karena setiap prestasi jadi dipertanyakan: "Dipilih karena kompeten atau karena penampilan?"
Pretty privilege juga sering datang bareng objektifikasi. Misalnya, dipandang dari ujung rambut sampai ujung kaki, dikasih komentar fisik tanpa diminta, atau digodain cuma karena dianggap "cantik." Lama-lama capek, apalagi kalau lagi pengin tampil biasa aja tapi tetap ada ekspektasi harus selalu rapi, glowing, dan cantik setiap saat. Tekanan untuk selalu terlihat cantik ini yang bikin privilege tadi jadi kayak pisau bermata dua.
Buat aku, memahami makna "back to the basics pretty privilege" itu artinya sadar kalau standar cantik itu dibentuk budaya dan media, dan nggak semua orang punya "start" yang sama dalam hal penampilan. Tapi ini juga jadi pengingat supaya kita nggak mengandalkan wajah doang dan tetap ngembangin skill, attitude, dan empati. Karena kalau cuma bertumpu pada fisik, begitu usia bertambah atau penampilan berubah, kita sendiri yang bakal kaget.
Kalau kamu ngerasa punya keuntungan punya wajah manis, menurutku nggak perlu merasa bersalah, tapi penting banget buat peka sama orang lain. Jangan jadi ikutan nge-judge orang dari fisiknya, dan hindari komentar kayak, "Kamu bisa gitu karena cantik doang." Sebaliknya, kalau kamu merasa nggak termasuk standar cantik yang umum, ingat kalau value diri itu luas banget: bisa dari cara kamu mikir, cara kamu bersikap, dan hal-hal unik yang cuma kamu punya.
Pada akhirnya, pretty privilege memang nyata, tapi kita bisa pilih gimana cara menyikapinya: bukan sebagai senjata buat ngerendahin orang lain, tapi sebagai pengingat kalau semua orang pantas diperlakukan baik, nggak peduli dia masuk standar cantik atau nggak.