Di konten #fypanalysis kali ini aku mau share sedikit tentang standar kecantikan. Dulu aku pikir tren itu diprediksi, ternyata tren itu diciptakan🤔. Mirip kayak standar kecantikan.
Misalnya standar kecantikan yang sekarang bentuk badan berisi. Nanti setelah banyak orang bisa 'membeli' badan berisi ini, para pembuat tren bakal ngubah tren ke 180 derajat yaitu badan kurus💔.
Jadi, dibanding ngikutin standar kecantikan yang akan terus berubah menurut aku sebaiknya kita menerima diri kita
... Baca selengkapnyaJujur aja, aku dulu termasuk orang yang percaya kalau cantik itu harus putih, tinggi, badan ideal, kulit mulus. Soalnya dari kecil yang sering kelihatan di TV, iklan, maupun media sosial ya tipe cewek yang begitu. Akhirnya aku tumbuh dengan mindset kalau kulitku yang sawo matang ini kurang cantik, jadi sering banget ngerasa minder.
Titik baliknya ketika aku sadar kalau standar kecantikan itu selalu berubah. Dari sejarah aja kelihatan: dulu tubuh berisi ala Venus of Willendorf dianggap ideal, lalu bergeser ke super kurus ala model runway, sekarang tren slim-thick ala Kardashian. Kulit juga gitu, di beberapa budaya kulit lebih gelap justru dianggap eksotis dan menarik. Jadi kalau hari ini orang bilang cantik itu harus putih, bisa aja beberapa tahun lagi standar itu berubah total.
Aku juga pelan-pelan ngeh kalau tren dan standar kecantikan ini nggak lepas dari kepentingan ekonomi. Semakin banyak orang dibuat merasa "kurang" (kurang putih, kurang langsing, kurang glowing), semakin banyak produk yang bisa dijual: krim pemutih, suplemen, treatment, dan sebagainya. Jadi wajar kalau narasi "cantik itu putih" terus diulang, karena ada industri besar di baliknya.
Dari situ aku mulai nanya ke diri sendiri: sebenarnya aku bener-bener pengen memutihkan kulit, atau cuma takut dibilang nggak cantik karena nggak putih? Jawabannya bikin aku kaget: banyak hal yang selama ini kulakuin tuh bukan karena aku butuh, tapi karena aku pengen diakui. Padahal standar itu sendiri rapuh dan berubah-ubah.
Sekarang aku berusaha pindah fokus. Bukan berarti aku berhenti merawat diri, tapi tujuannya beda. Aku pakai skincare bukan untuk jadi lebih putih, tapi untuk bikin kulitku yang sawo matang lebih sehat dan nyaman. Aku olahraga bukan supaya kurus mengikuti tren, tapi supaya badan lebih kuat dan nggak gampang sakit. Aku juga mulai follow konten kreator yang kulitnya gelap, chubby, berjerawat, dan tetap percaya diri. Itu membantu banget buat ngerombak cara pandangku tentang kata "cantik".
Yang paling kerasa bedanya adalah ketika aku mulai ngomong baik ke diri sendiri. Dulu kalau bercermin fokusnya cuma ke kekurangan: kok lengan gede, kok kulit belang, kok hidung nggak mancung. Sekarang aku coba ubah narasinya: terima kasih sama badan yang kuat diajak kerja, terima kasih sama kulit yang tiap hari melindungi. Pelan-pelan rasa bersalah karena "nggak sesuai standar" itu berkurang.
Buat kamu yang mungkin masih kejar standar cantik tertentu, termasuk cantik harus putih, coba tanya lagi ke diri sendiri: kalau suatu hari standar ini berubah, kamu mau sampai kapan terus-terusan mengejar? Wajar kok kalau kamu masih insecure, kita semua dibesarkan dalam budaya yang sama. Tapi kamu selalu punya pilihan untuk pelan-pelan belajar menerima diri sendiri.
Ingat, cantik tidak harus putih. Cantik itu ketika kamu nyaman jadi diri sendiri, meski nggak sama dengan apa yang lagi tren. Kalau standar kecantikan selalu berubah, biarin aja. Yang penting kamu tetap berpihak pada diri kamu sendiri.