Kesempatan atau Ujian?
Jila hal itu membuat kita melanggar integritas kebenafan maka itu bukan kesempatan tapi Ujian buat dirimu!
Jujur, dulu setiap ada pintu yang kebuka aku selalu anggap itu kesempatan dari Tuhan. Tapi makin ke sini aku belajar, nggak semua kesempatan itu benar-benar datang dari Tuhan. Kadang justru itu ujian buat integritas kita. Misalnya, kita ditawari pekerjaan atau proyek yang secara nominal kelihatan sangat menggiurkan, tapi cara mendapatkannya harus pakai manipulasi data, nutupin kebenaran, atau main "titip absen" dan sejenisnya. Di titik itu aku mulai sadar: kalau sebuah kesempatan mendorong aku untuk kompromi dengan integritas dan kebenaran, sebenarnya itu bukan berkat, tapi ujian. Aku juga pernah ngalamin dalam pelayanan dan kehidupan rohani. Ada ajakan dan tawaran yang kelihatannya rohani banget, pakai embel-embel nama gereja dan ayat, tapi di dalamnya ada motivasi pribadi, cari nama, atau bahkan meruntuhkan orang lain. Dari pengalaman itu aku merasa Tuhan sedang mengajar: bukan semua yang kelihatan rohani itu pasti dari Tuhan. Buat aku, ujian integritas itu biasanya datang dalam hal-hal kecil: disuruh bohong sedikit supaya masalah cepat selesai, diminta tutup mata terhadap ketidakadilan karena "demi menjaga situasi", atau tergoda memanfaatkan kepercayaan orang lain untuk keuntungan pribadi. Di momen-momen seperti itu aku belajar berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: kalau aku bilang ya, apakah aku masih jujur terhadap Tuhan, diriku sendiri, dan orang lain? Sekarang, setiap kali ada "kesempatan" datang, aku coba pakai beberapa pertanyaan sederhana: 1. Apakah aku harus mengorbankan kebenaran untuk ambil ini? 2. Apakah ini bikin aku jauh dari integritas dan hati nurani? 3. Kalau orang yang aku hormati tahu detailnya, aku masih berani cerita jujur? Kalau jawabannya bikin aku ragu soal integritas, biasanya aku anggap itu sebagai ujian, bukan berkat. Memang pernah ada rasa kehilangan karena menolak tawaran yang kelihatannya besar, tapi setelah lewat beberapa waktu, aku malah bersyukur karena hati rasanya lebih lega dan damai. Menurutku, Tuhan tetap bisa buka kesempatan yang baik, tapi Dia juga izinkan ujian datang untuk lihat apakah kita mau tetap pegang kebenaran. Jadi, ketika menghadapi sesuatu yang kelihatan seperti jalan keluar atau pintu berkat, jangan cuma lihat besarnya keuntungan, tapi cek juga: apakah ini selaras dengan integritas dan kebenaran yang kita pegang? Di situlah kita pelan-pelan belajar membedakan mana kesempatan ilahi, mana ujian buat hati kita.