... Baca selengkapnyaJujur, pertama kali dengar istilah "energy vampires" aku kira cuma istilah dramatis di internet. Tapi setelah baca buku Energy Vampires dan mulai sadar pola di sekitarku, ternyata aku memang sering ketemu orang-orang yang diam-diam nguras energi tanpa sadar.
Biasanya ciri mereka bukan selalu jahat, malah kadang kelihatan baik dan manis, tapi tiap habis ketemu atau chatting tuh rasanya capek banget. Ada yang tiap kali cerita selalu tentang masalahnya, dan kalau kita kasih solusi, ujung-ujungnya dibilang "tapi kan…" terus. Lama-lama bukannya membantu, kita malah merasa kewajiban buat jadi tempat sampah emosi.
Ada juga tipe yang hadir tanpa menyakiti secara langsung, tapi sikapnya bikin kita ngerasa bersalah terus. Misalnya, kalau kita mulai menarik diri dikit, mereka bilang kita berubah, nggak peduli, atau nggak setulus dulu. Padahal sebenarnya hati kita sudah terlalu lelah menampung semua cerita, drama, dan keluhan yang nggak kunjung selesai.
Yang paling bikin aku sadar adalah kalimat di buku: "Kamu bukan makhluk tanpa batas, jadi lelahmu juga pantas diberi belas." Di titik itu aku ngerasa, iya juga ya, selama ini aku sok kuat, sok tahan, sampai lupa kalau aku juga punya batas energi. Capekku bukan sesuatu yang harus dipaksa hilang, tapi sesuatu yang perlu diakui.
Pelan-pelan aku coba praktik saran yang mirip dengan isi buku: "Cobalah untuk sejenak menarik diri." Awalnya nggak gampang, apalagi kalau kamu tipe people pleaser yang pengen semua orang nyaman sama kamu. Tapi aku mulai dari hal kecil, kayak nggak langsung balas chat yang isinya curhat berat kalau lagi nggak sanggup, atau mengurangi ketemu orang yang setelah pulang selalu bikin aku merasa kosong.
Dan satu hal penting yang aku pelajari: "Menarik diri bukan tak peduli, itu caramu menyelamatkan energi." Kita tetap bisa peduli, tapi dengan batasan yang sehat. Misalnya, kita bisa bilang jujur, "Maaf, sekarang aku lagi nggak punya energi buat dengerin cerita berat, boleh lain kali?" Itu bukan berarti kita teman yang buruk, justru kita lagi belajar jadi teman yang nggak memaksakan diri sampai hancur.
Kalau kamu juga merasa dikelilingi energy vampires, coba refleksi: setelah ketemu atau ngobrol sama seseorang, kamu merasa lebih tenang atau malah lebih lelah dan bersalah? Dari situ pelan-pelan kamu bisa kenali siapa yang bikin energi kamu habis.
Buatku, baca buku Energy Vampires jadi semacam pengingat kalau menjaga diri sendiri bukan egois. Kita berhak punya ruang aman, berhak bilang "cukup" saat hati dan energi sudah penuh. Dan di perjalanan belajar menarik diri ini, aku ngerasa lebih ringan, lebih jujur sama diri sendiri, dan pelan-pelan belajar kalau nggak semua orang harus selalu punya akses ke energi kita setiap saat.