5/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya mengikuti tren di media sosial, seringkali kita salah kaprah mengartikan tindakan seperti memberi "like" pada story seseorang, terutama jika story tersebut bernuansa galau. Tidak selalu, like berarti ada perasaan personal atau dukungan emosional seperti yang kita harapkan. Banyak orang melakukan like karena alasan lain, seperti sekadar respons sosial atau kebiasaan tanpa makna emosional yang mendalam. Fenomena ini sering terjadi pada pengguna media sosial di komunitas seperti #bugistiktok, #lagubugis, dan #bugisbone yang juga menjadi wadah unik untuk berekspresi. Secara pribadi, saya menemukan bahwa memahami konteks dan hubungan dengan orang yang memposting story sangat penting untuk tidak salah mengartikan tanda perhatian yang tampak di media sosial. Saya sarankan untuk tidak terlalu menganggap serius setiap interaksi seperti "like" yang kita terima, apalagi jika tidak disertai interaksi langsung atau komunikasi lebih lanjut. Kadang, seseorang bisa menyukai konten kita hanya karena tampilan visual atau ingin menjaga hubungan sosial tanpa melibatkan perasaan secara mendalam. Jadi, ketika melihat story galau yang mendapat banyak like, penting untuk tetap realistis dan tidak cepat berasumsi bahwa pemberi like memiliki perasaan yang sama. Ini akan membantu kita menjaga kesehatan mental dan memaknai interaksi digital dengan cara yang lebih bijak dan dewasa.

4 komentar

Gambar Suraidah Lubis
Suraidah Lubis

❤️❤️❤️❤️

Gambar HRU Joo
HRU Joo

btul bgt.. 🥰

Lihat komentar lainnya