Truk Bermuatan Aspal 7,2 Ton Terguling di Jalan Patuk–Dlingo, Pengemudi Luka Ringan
GUNUNGKIDUL, (Kamis, 23 Oktober 2025) – Kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di Jalan Patuk–Dlingo, tepatnya di Dusun Brambang, Kalurahan Semoyo, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, pada Kamis (23/10/2025) sekitar pukul 10.50 WIB.
Kendaraan bermotor truk Toyota Dyna bernomor polisi AB 8326 BK yang dikemudikan oleh LW, warga Jigudan, Triharjo, Pandak, Bantul, mengalami kecelakaan tunggal saat melaju dari arah Patuk menuju Dlingo.
Menurut laporan petugas Polsek Patuk, truk tersebut mengangkut aspal hotmix seberat 7,2 ton. Saat tiba di lokasi kejadian yang merupakan jalan menanjak dan menikung ke kiri, kendaraan tiba-tiba kehilangan tenaga. Truk kemudian berjalan mundur secara tidak terkendali.
“Pengemudi sudah berusaha mengerem dan membanting setir ke kiri, namun truk justru terguling,” ungkap petugas di lokasi.
Akibat kejadian tersebut, pengemudi mengalami luka lecet pada tangan kanan dan kaki, namun dalam kondisi sadar dan tidak memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Kanit Lantas Polsek Patuk, Iptu Paryadi, mengimbau kepada para pengendara, khususnya sopir kendaraan bermuatan berat, agar selalu memeriksa kondisi kendaraan sebelum melakukan perjalanan.
> “Kami mengingatkan agar pengemudi berhati-hati, terutama di jalur menanjak atau menurun seperti wilayah Patuk–Dlingo. Pastikan sistem pengereman dan tenaga kendaraan dalam kondisi baik,” tegasnya.
Petugas kepolisian bersama warga sekitar sempat membantu proses evakuasi truk yang terguling agar tidak mengganggu arus lalu lintas di jalur tersebut.
sc @gunungkidul_viral2
Sebagai orang yang lumayan sering lewat jalur Patuk–Dlingo, kejadian truk bermuatan aspal 7,2 ton terguling ini bikin aku makin waspada, apalagi buat kendaraan besar seperti truk tronton atau Dyna bermuatan berat. Jalur ini terkenal tanjakan–turunannya yang curam dan tikungan tajam, jadi salah sedikit saja bisa fatal, meskipun seperti kasus ini “hanya” berakhir dengan luka ringan. Kalau ngobrol dengan beberapa sopir truk yang biasa bawa muatan aspal atau material bangunan, mereka sering cerita kalau kunci utamanya ada di persiapan sebelum jalan. Bukan cuma soal kelengkapan surat, tapi benar-benar cek fisik kendaraan. Sistem pengereman dan tenaga mesin wajib banget dipastikan. Buat truk tronton atau truk muatan berat, kampas rem yang sudah menipis, oli rem berkurang, atau komponen rem angin bermasalah bisa bikin kendaraan kehilangan kendali saat tanjakan maupun turunan. Di kasus ini, truk sempat kehilangan tenaga, lalu berjalan mundur dan akhirnya terguling. Selain rem, banyak sopir nyaranin buat selalu cek tekanan ban dan kondisi ban apakah sudah gundul atau belum. Truk muatan aspal seberat 7,2 ton jelas memberi beban ekstra ke ban. Kalau ban sudah tipis, risiko selip di jalan menanjak atau saat mundur makin besar. Di jalur seperti Patuk–Dlingo yang sempit dan berkelok, ruang manuver juga terbatas, jadi kesalahan kecil bisa langsung berujung terguling di bahu jalan. Hal lain yang sering disepelekan adalah pemilihan gigi saat melewati tanjakan. Banyak sopir berpengalaman bilang, lebih baik dari awal pakai gigi rendah dengan putaran mesin cukup tinggi, daripada telat menurunkan gigi dan akhirnya tenaga truk drop di tengah tanjakan. Begitu tenaga hilang dan truk mulai mundur, apalagi kalau muatan berat, sopir akan kesulitan mengendalikan, meski sudah injak rem dalam-dalam. Di beberapa tanjakan, mereka bahkan sengaja jaga jarak dengan kendaraan lain supaya kalau sesuatu terjadi, masih ada ruang untuk mengarahkan truk ke sisi jalan yang lebih aman. Dari kejadian ini, aku pribadi jadi makin sadar kalau sebagai pengguna jalan lain—baik pakai motor atau mobil kecil—kita juga perlu jaga jarak dengan truk besar di jalur rawan. Kalau lihat truk muatan berat lagi berjuang nanjak, usahakan jangan menyalip sembarangan dan beri ruang, karena kita tidak pernah tahu kapan kendaraannya bisa kehilangan tenaga. Dan kalau kebetulan lewat pas ada kecelakaan seperti ini, lebih baik pelan-pelan, jangan malah berhenti mendadak hanya untuk menonton, supaya arus lalu lintas tidak makin tersendat. Intinya, kejadian truk terguling di Patuk–Dlingo ini jadi pengingat betapa pentingnya perawatan rutin, cek rem dan mesin, serta teknik mengemudi yang benar untuk truk muatan berat. Jalur-jalur ekstrem di daerah perbukitan seperti Gunungkidul memang butuh persiapan ekstra, baik dari sopir maupun pengguna jalan lainnya, supaya insiden seperti ini bisa diminimalkan.






















