Warga Keluhkan Bau Tak Sedap Diduga dari Limbah Dapur SPPG MBG Siyono
GUNUNGKIDUL – Kamis (13/11/2025), sejumlah warga di wilayah Siyono mengeluhkan adanya bau tak sedap yang diduga berasal dari limbah dapur SPPG MBG. Warga mengaku, bau tersebut kerap tercium hingga ke dalam rumah terutama saat angin berembus.
Warga berharap pihak pengelola dapur SPPG MBG segera menindaklanjuti agar aliran limbah tidak lagi mengalir ke selokan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Menanggapi hal tersebut, perwakilan Yayasan SPPG MBG, Yustina Erna Widiyati, membenarkan adanya bau tak sedap yang muncul dari area dapur. Ia menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya membuat tampungan limbah yang nantinya akan diproses agar air yang keluar menjadi air normal, bukan limbah.
“Saat ini kami sedang menunggu alat khusus untuk penyaringan limbah,” ujarnya kepada awak media.
Yustina juga menambahkan bahwa sebelum tampungan selesai dibuat, pihak yayasan telah bekerja sama dengan Bumkal untuk melakukan penyedotan limbah secara berkala. Namun, kejadian meluapnya air limbah ke selokan sempat terjadi akibat hujan deras sebelum penyedotan dilakukan.
Pihak yayasan berjanji akan segera menyelesaikan permasalahan tersebut agar tidak lagi menimbulkan keluhan dari warga sekitar.
sc @gunungkidul_viral2
Masalah bau tak sedap yang muncul akibat limbah dapur SPPG MBG di wilayah Siyono menjadi perhatian serius bagi warga sekitar. Bau yang sering tercium hingga ke dalam rumah mengganggu kenyamanan sehari-hari, apalagi ketika angin berembus membawa bau tersebut ke lingkungan pemukiman. Limbah dapur memang perlu perhatian khusus karena mengandung air limbah organik yang dapat menimbulkan aroma tidak sedap jika tidak diolah dengan tepat. Pengelolaan limbah dapur yang benar sangat penting untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Dalam kasus ini, perwakilan Yayasan SPPG MBG, Yustina Erna Widiyati, telah mengonfirmasi adanya upaya pembuatan tampungan limbah yang akan diproses agar air limbah dapat dinetralisir dan menjadi air normal sebelum dialirkan keluar. Hal ini sesuai dengan praktek pengolahan limbah yang baik, dimana limbah dipisahkan dan disaring menggunakan alat khusus sehingga zat pencemar dapat dikurangi atau dihilangkan terlebih dahulu. Sementara menunggu instalasi alat penyaring limbah selesai, kerja sama dengan Bumkal untuk penyedotan limbah secara berkala menjadi solusi sementara. Namun hal ini pun memiliki keterbatasan, apalagi jika terjadi hujan deras yang membuat air limbah meluap ke selokan dan menimbulkan bau menyengat. Oleh karena itu, penyelesaian permanen seperti pembuatan tampungan dan instalasi penyaring menjadi sangat krusial. Untuk warga sekitar, penting juga memahami bahwa pengelolaan limbah secara benar tak hanya tanggung jawab pengelola dapur, tapi juga bagian dari kesadaran bersama menjaga kebersihan lingkungan. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan ke selokan, menjaga drainase tetap bersih, serta aktif melaporkan jika ditemukan indikasi pencemaran lingkungan. Dalam konteks pengelolaan limbah dapur, penggunaan teknologi dan proses biologis seperti biofilter atau sistem pengolahan limbah terintegrasi dapat menjadi solusi efektif dalam menghilangkan bau dan mengolah air limbah agar aman dibuang. Yayasan dan pihak terkait dapat mempertimbangkan investasi alat penyaring limbah modern yang efisien untuk mencegah masalah bau berkelanjutan. Secara keseluruhan, penanganan bau tak sedap dari limbah dapur SPPG MBG di Siyono memerlukan sinergi antara pengelola, warga, dan pemerintah setempat untuk memastikan lingkungan tetap sehat dan nyaman. Transparansi komunikasi dan tindakan cepat dari yayasan dalam menuntaskan masalah ini semakin penting untuk mengembalikan kepercayaan warga serta menjaga kelestarian lingkungan Gunungkidul.





















