... Baca selengkapnyaBanyak yang nanya, sebenarnya grafer itu apa sih dan kenapa aku pakai nama Gramerlay? Versi aku, grafer adalah orang yang suka banget mengabadikan momen, bukan cuma sekadar "fotografer profesional". Jadi grafer bisa siapa aja yang pakai kamera atau HP, tapi punya rasa dan niat buat bercerita lewat foto. Nama Gramerlay sendiri lebih ke identitas personal, aku pakai sebagai karakter di foto-foto yang aku buat.
Waktu di Wamena, khususnya sekitar Mapirle, aku banyak motret suasana sehari-hari. Ada momen seorang pria berjanggut dan berambut gimbal, pakai kaus polo oranye, memegang cangkir ungu-putih ke arah kamera di jalanan kota. Buat aku, itu contoh foto sederhana tapi berisi: ekspresi, warna, dan latar jalanan bikin fotonya berasa hidup.
Kalau kamu lagi cari ide foto di Wamena atau Mapirle, coba main ke area sekitar Festival Budaya Lembah Baliem. Di depan tulisan besar "FBLB" dan logo festival, orang-orang biasanya suka pose bareng. Aku biasanya minta mereka santai saja, saling lihat dan ketawa, baru beberapa detik kemudian jepret. Foto candid gini menurutku lebih jujur daripada pose kaku.
Untuk spot foto, aku suka kombinasi jalanan kota dan latar pegunungan. Misalnya tiga pria berjanggut dan berambut gimbal duduk di kursi lipat di trotoar, menghadap kamera dengan latar pegunungan. Tips aku: pakai aperture agak lebar supaya subjek tetap tajam tetapi gunung di belakang masih kebaca bentuknya. Kalau kamu pakai HP, aktifkan mode potret tapi jangan berlebihan efek blur-nya.
Aku juga suka motret suasana malam di jalan, apalagi di depan rumah yang dihiasi lampu dan pohon Natal atau lampu dekoratif terang benderang. Teknisnya, kalau pakai kamera D600 Nikon, aku biasanya main di ISO 1600–3200, shutter sekitar 1/80–1/125 detik, dan aperture f/2.8 atau f/3.5. Pegang kamera yang stabil, atau kalau bisa pakai tripod kecil. Kalau pakai HP, cari cahaya paling kuat (lampu toko, lampu dekor) dan arahkan subjek mendekat ke sumber cahaya.
Untuk pose, jangan takut minta orang gerak sedikit: suruh mereka angkat cangkir ke kamera, cek HP bareng, atau kasih jempol. Di foto dua pria di jalan malam hari, satu pakai batik sambil acungkan jempol, satu lagi berjanggut dan berambut gimbal. Pose sederhana kayak gini bikin foto lebih akrab dan terasa suasana Mapirle malam hari.
Kalau kamu baru belajar teknik moto, mulai saja dari hal-hal simpel: pastikan subjek terang, jangan terlalu jauh, dan coba beberapa sudut (sedikit dari bawah, atau agak miring). Dari pengalamanku di Wamena, yang paling penting bukan gear mahal, tapi berani ngobrol dengan orang lokal, minta izin foto, dan cari cerita di balik setiap wajah yang kamu abadikan.
Jadi kalau kamu cari inspirasi tentang grafer adalah apa, gaya foto Gramerlay, atau suasana Mapirle Wamena, semoga sharing ini bisa jadi ide buat eksplorasi foto kamu sendiri.