... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali belajar akuntansi manajemen buat usaha kecilku sendiri, aku sempat bingung bedain semua rumus: biaya produksi, biaya kontribusi, sampe rumus break even point (BEP). Setelah sering dipakai di bisnis sendiri, ternyata konsepnya nggak seseram itu kalau dipraktikkan pelan-pelan.
Aku mulai dari rumus biaya produksi dulu. Biasanya aku pakai dua pendekatan: full costing dan variable costing. Di full costing, semua biaya produksi dimasukin: biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, sama biaya overhead pabrik tetap dan variabel. Jadi total biaya produksi per periode dibagi jumlah unit yang diproduksi. Hasilnya jadi HPP per unit versi full costing. Ini berguna kalau kamu mau lihat total biaya menyeluruh, misalnya buat laporan ke bank atau investor.
Kalau variable costing, yang dihitung cuma biaya variabel per unit: bahan baku, tenaga kerja yang langsung berubah tergantung jumlah produksi, dan overhead yang sifatnya variabel. Biaya tetap disimpan terpisah. HPP per unit versi variable costing ini aku pakai buat ngitung margin kontribusi, karena lebih kelihatan berapa tambahan laba tiap kali satu unit produk terjual.
Nah, dari sini baru nyambung ke biaya kontribusi (margin kontribusi). Biaya kontribusi adalah selisih antara harga jual per unit dengan biaya variabel per unit. Misal harga jual 50.000 dan biaya variabel 30.000, berarti margin kontribusinya 20.000 per unit. Aku juga suka hitung margin kontribusi dalam persentase: (margin kontribusi / harga jual) x 100%. Persentase ini ngebantu buat bandingin beberapa produk, mana yang kontribusinya paling besar ke penutupan biaya tetap.
Setelah paham margin kontribusi, baru enak masuk ke rumus break even point. Rumus BEP unit yang sering kupakai: BEP (unit) = total biaya tetap / margin kontribusi per unit. Ini yang biasanya aku taruh di template spreadsheet: di bagian atas ada nama usaha, produk, HPP, harga jual, BEP, biaya tetap, biaya variabel, dan profit. Di bawahnya aku detailkan lagi jenis biaya tetap (sewa tempat, gaji karyawan tetap, listrik minimum, dll), penyusutan peralatan, sama biaya bahan baku/variabel.
Begitu BEP unit ketemu, aku jadi tahu minimal harus jual berapa unit supaya balik modal. Kalau angka BEP terasa terlalu tinggi, biasanya aku cek lagi: apakah biaya tetap kebesaran, atau margin kontribusinya kekecilan karena harga jual terlalu rendah atau biaya variabel terlalu tinggi. Dari situ aku kadang naikin harga jual sedikit, cari supplier bahan baku lebih murah, atau efisiensi proses supaya biaya variabel turun.
Menurutku, punya rumus-rumus ini dalam satu file atau template itu sangat ngebantu. Setiap ada produk baru, aku tinggal masukin data biaya dan harga, lalu langsung kelihatan HPP, margin kontribusi, dan BEP-nya. Dengan cara ini, keputusan bisnis jadi nggak cuma pakai feeling, tapi ada hitungan akuntansi manajemen yang jelas di belakangnya.