disclaimer: self diagnose dari tiktok, bisa benar, bisa salah, periksakan pada ahlinya jika terasa sangat mengganggu 😉
Beberapa minggu ini, fyp di tiktokku isinya tentang ADHD dewasa, dan beberapa yang sesuai denganku ada sebagai berikut:
1. Bekerja dan berusaha dengan motivasi kepepet (kalau belum kepepet, nanti-nanti terus)
2. Planner hanya berfungsi di minggu pertama
3. Langkah pertama terasa mantap, semakin hari semakin tidak konsisten
Merasa frustasi? pernah, karna rencana yang hanya jadi wacana, tapi, kurasa aku hanya menikmati hidup ini.
Merasa tertinggal dari teman yang lain-mereka yang sudah sukses? pasti, tapi itu juga karena kurangnya konsistensiku pada rencana-rencanaku sendiri.
Setelah ditilik ke belakang, rentang masa kerjaku pun paling lama hanya 1,5 tahun-mudah bosan dan hilang tantangan, atau karena terlalu sulit, lalu menyerah dengan mudah.
Kalau ditanya apakah aku bodoh? atau malas belajar? tidak juga, karna kebetulan saat sekolah, aku selalu juara kelas-IPK pun cumlaude. Hal tersebut juga yang kadang jadi bahan meme (sudah jadi apa yang dulu juara 1 di kelas?).
... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang juga pernah merasa mengalami tanda-tanda ADHD di masa dewasa, saya sangat mengerti bagaimana rasanya memiliki motivasi yang datang hanya saat terdesak dan kesulitan mempertahankan konsistensi dalam aktivitas sehari-hari. Memanfaatkan planner memang terlihat seperti solusi yang baik, tapi seringkali seperti yang diungkapkan dalam cerita ini, hanya bertahan sebentar sebelum akhirnya terlupakan.
Saya pernah mencoba berbagai metode untuk mengelola pola hidup dan pekerjaan saya, mulai dari membuat jadwal yang sangat rinci hingga menggunakan aplikasi pengingat. Namun, tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri, yaitu rasa mudah bosan dan cepat merasa kewalahan, yang membuat saya sering menyerah dan mengganti rencana. Hal ini tidak berarti saya malas atau bodoh, sama seperti kisah ini yang menunjukkan, seseorang dengan ADHD pun bisa berprestasi di sekolah dan meraih nilai bagus.
Penting juga untuk dipahami bahwa self diagnose seperti yang sering ditemukan di media sosial, termasuk TikTok, memang bisa memberikan gambaran awal, tetapi tidak dapat menjadi pengganti pemeriksaan profesional. Jika gejala yang dirasakan terasa mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi ke psikolog atau psikiater sangat disarankan.
Selain itu, saya menemukan bahwa teknik relaksasi dan manajemen stres sangat membantu, contohnya dengan metode "relax your body" yang juga tertulis pada gambar dalam artikel ini. Tekanan yang tidak dikelola dengan baik justru bisa memperburuk gejala ADHD. Menemukan cara menikmati hidup dengan segala kekurangannya, dan menerima diri apa adanya, adalah langkah penting untuk hidup lebih bahagia.
Berbagi cerita seperti ini juga dapat membantu kita merasa tidak sendiri, karena banyak orang dewasa menghadapi tantangan serupa. Jadi, teruslah berusaha dan jangan ragu untuk meminta bantuan saat diperlukan. Konsistensi memang sulit, tapi dengan dukungan dan strategi yang tepat, hidup dengan ADHD bisa lebih terkelola dan bermakna.