INSECURE SAMA REALITA DEWASA 😔?!! MUNGKIN KALIMAT INI BISA BIKIN TENANG...😇✨️
Buka sosmed belakangan ini tuh kayak ujian mental ya? Hahaha. Tiap scroll, isinya temen tiba-tiba udah nikah, dapet kerja di luar negeri, gajinya udah 2 digit, makin glow up, pokonya hidupnya kelihatan perfect banget. Memang #RealitaDewasa
Jujur, aku sempet ada di fase insecure parah. Sempet berandai-andai, "Coba gaji aku #gaji2digit , pasti udah bisa beli rumah, bisa ini itu..."
Tapi tamparan kerasnya justru dateng pas aku absen dari kondangan salah satu temen. Lewat obrolan setelahnya, aku baru tahu kalau ternyata orang-orang di sana malah kagum sama aku. Mereka ngelihat aku keren karena bisa kerja di salah satu perusahaan besar dan terkenal, walaupun mereka gak tahu ekspektasi aslinya gimana 🥲.
Dari situ aku langsung sadar, bener banget kata pepatah kalau rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Padahal kalau aku mau buka mata, di pekarangan rumahku sendiri itu gak cuma ada rumput. Ada pohon buah, bunga, dan sayuran yang tumbuh subur dan indah dengan caranya sendiri.
Sekarang aku belajar buat lebih bersyukur. Kerja pakai #gajiumr ? Alhamdulillah banget. Yang penting bisa #nabung , bisa jajan, bisa traktir orang tua, gak nyusahin orang lain, dan bisa mandiri biayain hidup sendiri di sini. Itu udah sebuah kemewahan.
Oh ya, bonus buat yang suka nanya "Kapan nikah?" tapi modal nyinyir doang, sekarang jawaban aku cuma satu: "Ini lagi ngumpulin uang, kalau kamu mau nambahin atau biayain, boleh banget!" Keburu capek dibilang sombong padahal mereka aja yang gak pernah nanya kabar duluan karena aku sibuk kerja 🤫.
Semangat ya buat kita yang lagi berjuang di jalan masing-masing. Rezeki kita gak bakal ketuker kok! ✨
Ketika saya mengalami masa di mana merasa insecure melihat pencapaian teman-teman di media sosial, saya menyadari bahwa perasaan tersebut sangat wajar dialami banyak orang, terutama di era digital sekarang ini. Sosial media memang terkadang menjadi panggung yang hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, sehingga kita mudah merasa tertinggal. Namun, setelah beberapa waktu mencoba untuk mengubah pola pikir, saya mulai membiasakan diri untuk fokus pada perjalanan hidup saya sendiri. Saya pun belajar untuk berhenti membandingkan 'garis start' saya dengan orang lain, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Seperti yang disebutkan, "rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau," tapi jika kita melihat dengan lebih cermat, pekarangan rumah kita sendiri punya keindahan dan keuntungan tersendiri, walaupun berbeda. Saya juga mencoba menanamkan rasa syukur atas apa yang sudah saya miliki, seperti pekerjaan dengan penghasilan UMR yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan menyisihkan sedikit untuk menabung. Rasa syukur ini memberikan keseimbangan mental dan mengurangi tekanan untuk selalu merasa kurang. Selain itu, mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif dan mendukung juga sangat membantu. Mereka yang benar-benar peduli akan mengingatkan kita bahwa rezeki tidak akan tertukar dan setiap perjuangan memiliki hasilnya sendiri. Hal ini membuat saya semakin kuat untuk tidak mudah terpengaruh komentar negatif atau tekanan sosial seperti pertanyaan "kapan nikah?" yang sering kali membuat tidak nyaman. Dari pengalaman itu, saya tahu bahwa memahami dan menerima porsi rezeki masing-masing, serta menjaga kewarasan merupakan kunci utama dalam menghadapi realita dewasa. Jangan pernah ragu untuk menetapkan batasan diri dan menjadi teguh dengan keputusan yang mendukung kesehatan mental kita. Semoga pengalaman ini bisa memberikan inspirasi dan semangat bagi siapa saja yang sedang mengalami fase serupa untuk lebih mencintai diri sendiri, fokus berjuang, dan bahagia dengan jalannya masing-masing.




