Sadar ga sii 100 ribu itu nilainya bisa beda banget tergantung kita pakai buat apa.
Kemarin aku belanja ke pasar, cuma modal 100 ribu tapi bisa masak sampai 3 hari untuk 2 orang. Lengkap: lauk, sayur, bahkan kadang masih ada sisa bahan.
Terakhir kali aku jajan diluar… eh 83 ribu cuma habis buat 2 porsi makan (sekali makan). Kenyang, tapi cuma sebentar hilang. Mungkin ga semuanya sekali makan diluar abis 100 ribu ya,aku cuma mau tunjukin intinya bukan dilarang jajan…
Tapi aku jadi lebih sadar aja:
Uang yang sama, hasilnya bisa jauh beda tergantung cara pakainya.
Sekarang aku mix:
masak di rumah buat hemat, jajan di luar buat self reward.
... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu tuh tim jajan restoran banget. Ngerasa lebih praktis: tinggal duduk, pesen nasi sama lauk, plus minuman segelas es teh jumbo, udah beres. Tapi makin ke sini, setelah beberapa kali lihat struk yang isinya 80–100 ribu cuma buat dua porsi makan sekali duduk, aku mulai mikir ulang soal cara pakai uang.
Pas aku coba belanja ke pasar dengan niat mau masak, kaget banget ternyata 100 ribu bisa jadi macam-macam. Contohnya, buat sayuran aja dengan total sekitar Rp 32.000 aku bisa dapet selada, kangkung, terong, wortel, jagung, timun, pakcoy, sampai jamur enoki. Semua masih segar, dan bisa diolah jadi beberapa menu: tumis kangkung, capcay wortel jagung, salad selada timun, atau sop pakcoy jamur enoki. Itu baru sayuran, belum lauknya.
Untuk lauk, aku biasa beli ikan lele, potongan ayam, dada ayam, tempe, dan telur. Harganya kalau dirinci memang beda-beda, tapi kalau di-total masih masuk akal dalam satu budget 100 ribu. Lele bisa digoreng sambal, ayam bisa dibikin ayam kecap atau ayam sambal ijo, tempe dan telur bisa jadi menu darurat kalau lagi mager masak ribet. Dari kombinasi bahan mentah ini, aku bisa masak buat 2 orang sampai 3 hari, lengkap dengan lauk dan sayur.
Sementara itu, kalau makan di luar, contohnya dua porsi nasi dengan lauk cumi dadar dan sambal plus segelas es teh jumbo, struk yang keluar bisa tembus sekitar Rp 83.000. Kenyang sih, tapi cuma sekali makan dan habis itu nggak ada sisaan yang bisa diolah lagi. Buat aku pribadi, di situ kerasa banget bedanya "nilai" 100 ribu di pasar vs di restoran.
Sekarang aku lebih sadar kalau pap pasar yang isinya foto-foto bahan makanan itu sebenarnya bukan cuma estetik, tapi juga ngingetin kalau belanja bahan mentah punya efek jangka panjang ke dompet. Lauk restoran tetap aku suka, apalagi cumi dadar atau ayam crispy dengan sambal yang susah ditiru di rumah. Makanya aku akhirnya pilih jalan tengah: sebagian besar masak di rumah untuk hemat, tapi tetap kasih diri sendiri self reward dengan jajan restoran sesekali.
Kalau kamu sering lihat konten orang share pap pasar dan struk lauk restoran, boleh banget dijadiin bahan refleksi. Coba catat berapa kali kamu makan di luar dalam sebulan, dan bandingin kalau sebagian uangnya dialihin ke belanja bahan masak. Bisa jadi kamu tetap bisa menikmati lauk restoran favoritmu, tapi frekuensinya lebih terkontrol dan sisanya kamu atur buat stok sayuran segar dan lauk mentah di rumah.
Intinya bukan dilarang jajan, tapi lebih ke bijak pilih momen. Kalau lagi pengen hemat, main ke pasar dan eksplor sayuran serta lauk mentah yang bisa jadi banyak menu. Kalau lagi pengen penghargaan buat diri sendiri setelah capek kerja atau kuliah, baru deh jajan lauk restoran yang kamu suka. Dengan cara ini, 100 ribu rasanya jadi jauh lebih "bernilai" dan sesuai sama kebutuhanmu.
emang kalau masak sendiri lebih puass krn banyak.. tapiii capee 😂😂