Guru kami TGK NURDIN bin Yahya ,beliau Pelita Ilmu yg telah menuntun kami dengan teladan..Kami tak akan pernah melupakan nasehat & didikannya
“Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepada Almarhum ,kami terus akan menjalankan nasehat2 Beliau , sosok yang mulia, telita ilmu, dan telita akhlak. Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi kita semua.
Semoga Allah memberi pahala yang berlipat ganda atas segala kebaikan dan pengabdian beliau. Amin.”
3/2 Diedit ke
... Baca selengkapnyaSebagai santri ikhwan, kehilangan guru seperti TGK Nurdin bin Yahya terasa sangat dalam. Setiap kali melihat foto ikhwan memakai peci dan jubah sederhana, aku langsung teringat wajah beliau saat duduk di depan spanduk SERAP ASPIRASI, menasehati kami dengan suara tenang tapi tegas. Foto-foto kenangan itu sekarang jadi pengingat betapa besar jasa beliau dalam membentuk kami.
Banyak teman suka cari foto ikhwan atau gambar kartun pria berpeci untuk dijadikan profil, wallpaper, atau sekadar motivasi. Buatku, wajah guru kami – meski bukan ustadz yang sering muncul di media – lebih bermakna daripada sekadar gambar kartun. Raut wajah beliau yang teduh, senyum tipis, dan sorot mata yang penuh kasih sayang ke santri, itu yang selalu terbayang ketika aku mengingat masa-masa mondok.
Dulu kami sering duduk melingkar di lantai, beliau di depan, memakai peci putih dan baju sederhana. Beliau jarang bicara panjang, tapi setiap kalimat terasa menancap. Salah satu nasehatnya yang selalu kuingat: jangan kejar popularitas, tapi kejar keberkahan ilmu. Mungkin itu sebabnya foto-foto beliau tidak tersebar luas seperti ustadz-ustadz terkenal, namun pengaruhnya sangat kuat di hati kami.
Sekarang, setelah beliau berpulang, aku mulai lebih menghargai momen kecil yang dulu terasa biasa saja: cara beliau menatap santri saat mengingatkan dengan lembut, cara beliau tersenyum ketika kami berhasil menghafal pelajaran, bahkan cara beliau diam ketika kami membuat kesalahan. Semua itu terekam dalam ingatan, dan sebagian terekam dalam foto kenangan yang kadang aku buka lagi saat rindu.
Kalau teman-teman lagi cari inspirasi foto ikhwan atau pria berpeci, menurutku jangan hanya fokus pada tampilan gagah di kamera. Cobalah lihat sosok guru, kyai, atau ustadz di sekitar kita. Wajah mereka mungkin tanpa filter, tanpa pose berlebihan, tapi di balik keriput dan tatapan lelah ada cerita pengabdian dan cinta kepada ilmu.
Dari TGK Nurdin bin Yahya aku belajar, bahwa yang membuat seorang guru tampak istimewa bukan hanya pakaian atau gaya, tapi akhlak dan ketulusan. Itulah yang membuat foto beliau, meski sederhana, terasa sangat hidup dan menyentuh. Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan yang luas untuk beliau, dan semoga kami, para santri ikhwan, bisa meneruskan nasehat-nasehatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau kamu punya foto kenangan bersama guru atau ustadz, jangan ragu untuk menyimpannya baik-baik. Suatu saat, ketika mereka sudah tiada, foto itu akan jadi penguat rindu dan pengingat bahwa kita pernah dibimbing oleh orang-orang mulia yang mengajarkan arti sebenarnya dari menjadi hamba Allah yang berakhlak.