Rahasia 'Ainul Hasad
Mengapa Warga Irak Melarang Pujian dan Euforia di Momen Krusial?
Dalam pengalaman saya tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat Irak, saya menyadari betapa kuatnya pengaruh tradisi 'Ainul Hasad' atau mata hasad terhadap cara mereka menyikapi keberhasilan dan kebahagiaan. Berbeda dengan budaya lain yang cenderung merayakan kemenangan dengan gegap gempita, masyarakat Irak justru lebih memilih diam dan menjaga suasana agar tidak memicu iri atau kebencian dari orang lain yang dipercaya dapat membawa sial. Saya pernah menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola di Irak, di mana warga memilih untuk tidak melakukan nobar besar atau tidak menonjolkan sorak sorai walaupun tim mereka menang. Beberapa rumah bahkan melakukan ritual dengan cara menutup gambar pemain bintang atau menghentikan perayaan demi menjaga emosi kolektif dan tidak menentang nasib. Hal ini bukan karena mistis semata, melainkan sudah menjadi mekanisme psikologis untuk merawat harapan dalam senyap dan menghindari trauma sosial akibat sejarah konflik panjang yang dialami negara tersebut. Konsep 'Ainul Hasad' ini menanamkan sikap protektif di masyarakat, sehingga mereka sangat berhati-hati dalam mengekspresikan kebahagiaan yang berlebihan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kesederhanaan dan kehati-hatian agar pujian tidak berubah menjadi sumber marabahaya. Dari pengalaman saya, memahami budaya ini sangat membantu untuk tidak salah paham ketika melihat sikap warga Irak yang tampak dingin atau terkendali dalam perayaan momen penting. Bagi kita yang mungkin terbiasa dengan ekspresi euforia saat kemenangan atau pencapaian, belajar tentang 'Ainul Hasad' membuka wawasan bahwa cara manusia mengelola emosi dan harapan bisa sangat beragam tergantung latar sosial dan sejarahnya. Ini juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai pemahaman budaya yang berbeda dan bagaimana tiap komunitas merawat kebersamaan mereka dengan cara unik.











