Mahar Yang Tak Pernah Kuinginkan
PAPA MEMILIKI HUTANG YANG SANGAT BANYAK, HINGGA RUMAH PENINGGALAN ALM. NENEK AKAN DI SITA OLEH KELUARGA ARGAWINATA.
LALU MEREKA MENYURUHKU MEMILIH.
NIKAHI SALAH SATU ANAKNYA ATW RUMAH ALM. NENEK MEREKA AMBIL....
****
Keesokan harinya, aku membulatkan tekad untuk datang ke kediaman keluarga Prabu. Aku melangkah masuk dengan perasaan campur aduk, namun tujuanku sudah bulat: aku akan menerima tawaran ini demi melunasi hutang Papa dan mengamankan rumah Nenek.
"Apa kamu merasa terpaksa?" tanya Baskara saat aku duduk di hadapannya. Tatapannya mencari-cari kejujuran di mataku.
"Tidak, Mas. Aku ikhlas. Aku tidak mau Papa dikejar hutang lagi, dan aku ingin rumah Nenek aman," jawabku sambil menunduk dalam. "Mas juga orang yang baik, jadi... aku bersedia menjadi istri Mas."
"Alhamdulillah," ucapnya lirih. Senyum manis mengembang di wajahnya, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya.
Tiba-tiba, Ibu Widuri datang dengan langkah anggun yang mengintimidasi. Aura ningratnya begitu kental saat ia mengambil posisi duduk di sofa utama. "Jadi, kapan acaranya akan dilaksanakan? Biar kami yang siapkan semuanya. Kamu tinggal duduk manis saja di pelaminan," ucapnya tanpa basa-basi.
Aku segera berdiri dan mencium punggung tangannya dengan takzim. "Kalau soal itu, saya harus bicara dulu dengan Papa," ucapku pelan.
"Kamu yang harus memutuskan. Wisnu tinggal datang saja sebagai wali nikahmu nanti," sahut Ibu Widuri dingin. Aku terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Dua minggu saja, Ma," celetuk Baskara tiba-tiba.
Aku tersentak dan mendongak menatapnya. Apa?! Dua minggu? seruku dalam hati. Bibirku kelu, rasanya lidahku mendadak kaku untuk melayangkan protes. Bukankah itu terlalu cepat?
"Bagaimana, Alya?" tanya Baskara lembut, menanti persetujuanku.
"Ba... baik, Mas," jawabku akhirnya sambil mengangguk pelan.
"Ya sudah, Mama akan siapkan semuanya," ucap Ibu Widuri singkat, lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan kami berdua di ruang tengah.
Baskara menatapku dengan tatapan menyesal. "Mama memang begitu sikapnya, jangan diambil hati ya. Nanti kalau kita sudah menikah, aku akan tinggal di rumahmu saja," ucapnya menenangkan.
Aku mengangguk, namun pikiranku masih melayang. "Tapi Mas, soal rumah itu... bagaimana jadinya?"
"Itu tetap akan jadi rumahmu, Alya. Hutang Papamu lunas karena kamu sudah bersedia merawatku seumur hidupmu. Apa kamu benar-benar siap? Jika ragu, masih ada waktu untuk mundur," ucap Baskara dengan senyum tipis yang penuh pengertian.
Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang teduh. "Aku sudah berpikir matang, Mas. Dan sepertinya aku siap," ucapku mantap. Baskara tidak berusaha menyentuhku, namun tatapan dan senyumannya sudah cukup membuat hatiku merasa tenang.
Namun, ketenangan itu seketika hancur saat Raden tiba-tiba datang dengan wajah ditekuk.
"Ada tamu rupanya," sindir Raden. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa dan menyalakan rokok dengan gaya angkuh.
"Bagaimana urusan kantor?" tanya Baskara, suaranya tetap tenang, sangat kontras dengan adiknya.
"Baik. Di tanganku, apa sih yang tidak baik?" sahut Raden sombong.
"Baguslah. Jika nanti aku menikah, kamu yang harus kirim undangan pada relasiku," ucap Baskara.
"Apa?! Jadi kalian benar-benar akan menikah? Hahaha!" Raden tertawa terpingkal-pingkal, tawa yang terdengar sangat menghina. "Kamu mau menikah dengan cewek aneh ini, Mas?"
"Apa itu lucu bagi kamu?" tanya Baskara tegas.
"Tentu saja lucu! Kamu bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa. Bagaimana kalau dia ternyata jelek? Bayangkan saja kamu malam pertama dengan wanita buruk rupa!" ucap Raden sambil terkekeh geli.
Mendengar itu, hatiku hancur seketika. Aku menunduk sedalam mungkin, air mata mulai menggenang dan dadaku terasa sesak karena hinaan itu. Baskara menyadari perubahanku.
"Raden! Kamu keterlaluan! Minta maaf sekarang!" bentak Baskara, suaranya menggelegar.
"Tidak akan," jawab Raden enteng. Ia berdiri dan melenggang pergi tanpa rasa bersalah.
Baskara memajukan kursi rodanya ke arahku, lalu menyodorkan selembar tisu. "Maafkan dia ya, Al," ucapnya lembut.
Aku menelan ludah, suaraku tercekat di tenggorokan. Aku tak sanggup berkata apa-apa, hanya air mata yang terus merembes membasahi cadarku. Baskara tampak kebingungan menenangkanku; ia ingin meraih tanganku namun terhalang meja di antara kami.
"Aku... aku mau pulang, Mas," ucapku tersedu-sedu.
"Tunggu, tenang dulu ya."
Aku mengangguk pelan, mencoba mengatur napas. Baskara mulai menceritakan hal-hal lucu hingga akhirnya aku bisa tersenyum kembali.
JUDUL: MAHAR YANG TAK PERNAH KUINGINKAN
author Kim_elly02

























































