Warisan itu rezeki nomplok. Emang bener ya?

2025/10/26 Diedit ke

... Baca selengkapnyaAku sering dengar cerita soal rebutan warisan, mulai dari saudara yang nggak saling sapa lagi, sampai anak yang menjauh dari orang tua gara-gara rumah warisan. Padahal, kalau dipikir lagi, warisan itu harusnya jadi rezeki nomplok yang bikin keluarga makin dekat, bukan malah sengketa cinta di rumah warisan. Realita yang sering terjadi sekarang ini, warisan dianggap sebagai ajang pembuktian siapa yang paling berhak. Ada yang merasa lebih berjasa, lebih sayang orang tua, atau lebih lama tinggal di rumah warisan, lalu merasa harta itu otomatis punya dia. Dari sinilah sering muncul konflik: ada yang menahan hak saudara, ada yang diam-diam balik nama, ada yang menguasai rumah warisan sendirian. Coba bayangin skenario sederhana: lagi sarapan bareng sekeluarga, di meja makan ada banyak makanan. Tiba-tiba satu orang bilang, "Ini semua punya aku, ya!" Pasti yang lain merasa nggak adil, kan? Kurang lebih seperti itu rasanya ketika satu orang mengklaim semua harta warisan, atau mengatur pembagian sesuka hati tanpa musyawarah dan tanpa patokan jelas. Di sinilah pentingnya kita balik ke syariat. Dalam Islam, aturan warisan (faraid) sudah diatur dengan sangat rinci dan adil. Siapa dapat berapa, siapa yang berhak, semuanya punya porsi masing-masing. Kalau pembagian warisan dilakukan sesuai syariat, kita nggak perlu lagi berdebat pakai rasa paling berhak, karena acuan kita adalah ketentuan Allah, bukan emosi. Dari pengalaman ngobrol dengan teman dan keluarga, masalah warisan biasanya muncul karena tiga hal: kurang ilmu tentang syariat, kurang komunikasi, dan terlalu kuat rasa "itu punya aku". Makanya, menurutku penting banget sebelum orang tua wafat, keluarga mulai belajar literasi syariah soal warisan, diskusi pelan-pelan, dan menyusun rencana yang transparan. Misalnya, orang tua bisa bikin wasiat yang sesuai syariat, menjelaskan posisi rumah warisan, tanah, tabungan, dan lain-lain. Aku pribadi sekarang lebih sadar kalau warisan bukan sekadar harta, tapi ujian: apakah kita memilih rebutan warisan atau menjadikannya jalan kasih sayang. Yuk coba pikir lagi, jangan sampai rezeki nomplok jadi bencana. Kalau bingung, kita bisa tanya ustaz atau ahli faraid supaya pembagian warisan jelas, adil, dan membawa keberkahan. Biar rumah warisan bukan jadi sumber sengketa cinta, tapi jadi tempat kumpul keluarga yang penuh doa dan kebahagiaan.