Game mobile terbaru NCSOFT, AION2, yang rilis pada 19 November, langsung menuai kritik setelah pemain menemukan preset karakter yang dinilai sangat mirip Felix Stray Kids dan Sullyoon NMIXX.
Preset karakter adalah tampilan dasar yang disediakan developer sebelum pemain melakukan kustomisasi.
Namun, beberapa pengguna menilai wajah karakter pria dan wanita di AION2 terlalu mirip dengan dua idol JYP tersebut.
Kontroversi semakin memanas karena AION2 memiliki rating 19+, sehingga fans merasa tidak nyaman melihat karakter yang menyerupai idol yang belum berusia matang muncul dalam game dewasa.
Beberapa postingan di X juga memperlihatkan seorang pemain yang mengubah ukuran bagian tubuh karakter, sehingga mengarah ke pelecehan.
Ahli hukum pun ikut angkat suara. Pengacara Noh Jong Eon mengatakan bahwa jika karakter tersebut mudah dikaitkan dengan figur publik dan digunakan untuk kepentingan komersial tanpa izin, hal itu bisa melanggar Right of Publicity menurut Undang-Undang Pencegahan Persaingan Tidak Sehat. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan kemiripan idol tanpa persetujuan, apalagi dalam game dewasa, bisa mencoreng citra K-pop.
JYP Entertainment dikabarkan sedang meninjau situasi ini. Sementara itu, NCSOFT mengakui adanya kekhawatiran dari pemain dan menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan meski menegaskan kemiripan tersebut tidak dibuat secara sengaja.
... Baca selengkapnyaDalam dunia game, preset karakter merupakan elemen penting yang mendukung pengalaman kustomisasi pemain. Namun, ketika preset tersebut diduga meniru sosok publik seperti idol K-pop, hal ini dapat menimbulkan kontroversi, terutama jika game tersebut berisikan konten dewasa dengan rating 19+ seperti AION2.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian developer dalam mendesain karakter agar tidak terlalu menyerupai figur nyata, terutama yang masih memiliki citra publik yang rentan. Penggunaan wajah idol seperti Felix dan Sullyoon dalam game dewasa berpotensi merusak citra mereka di mata publik dan penggemar, apalagi tanpa persetujuan resmi.
Selain aspek legal, kondisi ini memicu diskusi tentang batasan kreatif dalam pembuatan konten digital. Para fans merasa tidak nyaman ketika figur idol yang mereka kagumi muncul dalam konteks yang kurang pantas, apalagi jika dikaitkan dengan pelecehan yang tercermin dalam modifikasi karakter, seperti yang terjadi di platform media sosial X.
Dari sudut pandang hukum, Right of Publicity melindungi citra publik figur dari eksploitasi komersial tanpa izin. Jika kemiripan yang digunakan mudah dikenali dan dimanfaatkan untuk keuntungan, pelanggaran hak ini bisa menimbulkan konsekuensi hukum serius bagi pihak developer. Oleh karena itu, langkah JYP Entertainment yang meninjau situasi ini penting untuk melindungi kepentingan artis dan reputasi industri K-pop secara umum.
Sebagai pelaku industri game, NCSOFT harus lebih transparan dan responsif dengan kritik yang muncul, sekaligus melakukan revisi terhadap konten yang memicu kontroversi. Hal ini sekaligus menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab sosial dalam berkreasi, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tren hiburan digital.
Ke depan, penting untuk adanya komunikasi yang lebih baik antara developer game dan agen artis guna menghindari masalah serupa. Pengalaman ini juga menjadi pembelajaran bagi komunitas gamer dan fans K-pop untuk lebih kritis dan menjaga etika saat menggunakan konten digital yang melibatkan sosok publik.