MENGINGAT YANG TELAH LUPA 📸

Sebuah foto yang menyimpan cerita dan kenangan dari masa lalu.

Potret para sesepuh, mantan Kepala Desa se-Pulau Jemaja, ketika saat itu wilayah Pulau Jemaja masih terdiri dari 6 Desa dan 1 Kelurahan.

Dari para sesepuh yang ada dalam foto ini, saat ini hanya satu orang yang masih hidup, yaitu mantan Penghulu Impol. Sementara yang lainnya telah berpulang ke hadirat Allah SWT.

Semoga segala jasa, pengabdian, dan perjuangan mereka untuk masyarakat menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT

Wajah mereka mungkin telah tiada, tetapi nama, jasa, dan kenangan tentang mereka akan selalu menjadi bagian dari sejarah Pulau Jemaja.

Al-Fatihah untuk para sesepuh yang telah berpulang

#MengingatYangTelahLupa #SejarahJemaja #AlFatihah

2 hari yang laluDiedit ke

... Baca selengkapnyaMelihat kembali foto bersama para sesepuh mantan Kepala Desa se-Pulau Jemaja memberikan saya pengalaman yang sangat mengharukan dan penuh makna. Foto tersebut bukan sekadar gambar, melainkan menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah pembangunan Pulau Jemaja, khususnya saat wilayah tersebut masih terdiri dari 6 Desa dan 1 Kelurahan. Dari cerita yang tersimpan, saya merasa pentingnya mengabadikan kenangan ini agar generasi kini dan mendatang tidak melupakan jasa-jasa para tokoh pendahulu. Dari pengalaman pribadi saya, mengenang mereka yang telah berpulang bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga tentang belajar dari nilai-nilai pengabdian dan perjuangan mereka. Foto ini mengingatkan saya bahwa dari setiap figur yang ada, hanya satu sesepuh yang masih hidup, yaitu mantan Penghulu Impol. Ini menambah keharuan sekaligus rasa hormat yang mendalam terhadap semua yang telah mendahului kita. Selain itu, mengingat sejarah Pulau Jemaja yang dulu masih terbagi menjadi beberapa desa kecil membuat saya semakin menyadari bagaimana proses pembangunan dan perubahan sosial berlangsung. Saya merasa bahwa kenangan akan mereka tidak boleh hilang begitu saja, karena mereka adalah fondasi yang membuat Pulau Jemaja bertahan dan berkembang. Setiap wajah dalam foto tersebut mengandung kisah perjuangan dan pengabdian yang begitu tulus kepada masyarakat. Saya juga teringat pentingnya mengucapkan doa dan penghormatan, seperti Al-Fatihah untuk para sesepuh yang telah meninggalkan kita. Ini menjadi bentuk penghargaan saya secara pribadi, sebagai salah satu wujud rasa terima kasih atas segala kontribusi mereka yang selalu saya kenang. Bagi saya, kenangan bisa menjadi amal jariyah jika terus kita simpan dan sampaikan kepada orang lain. Secara keseluruhan, pengalaman melihat dan merenungkan foto bersejarah ini mengajarkan saya bahwa sejarah adalah harta yang berharga. Dengan terus mengenang, menghormati, dan belajar dari para pendahulu, kita turut menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur dan jiwa kepemimpinan yang telah diwariskan kepada kita. Saya percaya bahwa mengabadikan dan membagikan kenangan ini juga dapat menginspirasi komunitas di Pulau Jemaja dan sekitarnya untuk terus memelihara semangat persatuan dan pengabdian demi kemajuan bersama.