unzur ma kola wala tunzur mangkola
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak untuk menilai seseorang berdasarkan status sosial, penampilan, atau latar belakang mereka sebelum mendengarkan apa yang mereka katakan. Sebagai contoh, jika sebuah pesan diberikan oleh seseorang yang berpenampilan sederhana atau dianggap 'preman', kita cenderung mengabaikannya begitu saja. Namun, sebaliknya, ketika nasihat datang dari seorang ustad atau orang yang dihormati, kita langsung mengikuti tanpa banyak pertimbangan. Saya pernah mengalami situasi di mana seorang teman yang tidak terlalu dikenal sebagai orang yang berilmu memberikan saran yang sangat berharga tentang kehidupan dan cara menghadapi masalah. Awalnya saya ragu, tetapi setelah saya renungkan dan amati hasilnya, saya menyadari bahwa isi pesan itulah yang penting, bukan siapa yang menyampaikan. Prinsip 'unzur ma kola wala tunzur mangkola' mengajarkan kita untuk lebih bijak dalam menerima ilmu dan nasihat. Artinya, lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakannya. Sikap ini menuntut kita menjadi pribadi yang adil dan tidak mudah dipengaruhi oleh prasangka. Dalam dunia yang penuh dengan informasi dan berbagai suara, kemampuan untuk menyaring hanya isi yang baik sangat dibutuhkan. Selain itu, sikap ini juga bisa menumbuhkan rasa hormat dan keterbukaan antar sesama manusia, karena kita belajar untuk menghargai nilai kebaikan tanpa memedulikan sampul luar. Ini adalah pelajaran penting yang saya sadari ketika mulai membuka diri untuk mendengarkan semua orang dengan rasa adil dan tanpa prasangka. Oleh karena itu, mari kita biasakan mendengarkan pesan dengan hati yang terbuka dan menilai isi pesan berdasarkan kebaikan dan manfaatnya. Jangan sampai kita menolak ilmu berharga hanya karena asal-usul penyampainya. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang lebih bijak, adil, dan mampu mengambil manfaat dari segala pengalaman dan nasihat yang tersedia.











